BANTUL - Saluran irigasi dan drainase di Km 14 Jalan Wonosari, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, mengalami kerusakan akibat sedimentasi yang menyebabkan saluran tersumbat.
Akibatnya, sawah seluas 44 hektare terdampak karena tak dapat aliran air. Dan membuat menurunnya produktivitas pertanian serta memicu banjir saat musim hujan.
Ulu-Ulu Kalurahan Srimulyo Reza Fajar Pratama mengatakan, saluran irigasi dan drainase tersebut telah tersumbat selama belasan tahun.
Sebagai solusi sementara, para petani membuat sumur bor dan menyalurkan air menggunakan selang dari Sungai Gawe ke petak-petak sawah mereka.
“Untuk mengantisipasinya, karena setiap tahun otomatis air yang mengairi sawah semakin menipis,” katanya, Kamis (2/7/2026).
Pembuatan sumur bor pun baru dilakukan dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, penggunaan sumur bor maupun pengairan menggunakan selang dari Sungai Gawe ke lahan pertanian memerlukan bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: Hyundai New CRETA Andalkan Kenyamanan Kabin untuk Menjawab Kebutuhan Pengguna SUV
Kondisi ini membuat biaya operasional para petani meningkat karena mereka harus membeli BBM untuk mengoperasikan pompa sumur bor dan mengalirkan air ke sawah dari Sungai Gawe dengan selang.
“Panjang selang sekitar 30-an meter ada sih, nanti ketika ini ditindaklanjuti semoga bisa memberikan solusi kepada petani,” ujarnya.
Sedangkan dampak dari adanya drainase yang tersumbat menyebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa saat musim hujan tiba. Kondisi tersebut kerap memicu kecelakaan lalu lintas di Km 14 Jalan Wonosari.
Baca Juga: Ketakutan Diintai Polisi, Mahasiswa Kurir Narkoba Sinte di Magelang Pilih Menyerahkan Diri
Ditambah drainase tersebut berada di kawasan perempatan jalan sehingga berisiko mengganggu aktivitas penyeberangan saat hujan deras. Selain itu, banjir juga sering menyebabkan kemacetan.
Lokasi drainase yang berada di dekat SMP Negeri 1 Piyungan membuat kondisi tersebut semakin mengganggu arus lalu lintas, terutama saat banyak orang tua menjemput anak-anak mereka.
“Karena itu kami meminta pemangku kebijakan untuk bersama-sama mencari solusi terkait permasalahan ini,” katanya.
Baca Juga: Dana dari Masyarakat Bantu Kelola Operasional PMI Sleman
Pemerintah Kalurahan Srimulyo pun tidak memungkinkan melakukan perbaikan karena saluran irigasi dan drainase tersebut berada di ruas jalan nasional yang bukan kewenangan di tingkat kalurahan.
Oleh karena itu, pihaknya meminta bantuan kepada Satker PJN DIY dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk menangani kerusakan tersebut karena berada dalam kewenangan mereka.
“Kalau kita yang menangani sangat berisiko,” tuturnya.
Baca Juga: Gubernur DIY HB X Imbau Wisatawan Tunda Dulu Naik ke Merapi, Menyusul Aktivitas Vulkanik
Pihaknya juga telah bertemu dengan Komisi C DPRD DIY, Satker PJN DIY, dan OPD terkait untuk meninjau saluran irigasi dan drainase yang tersumbat sedimen. Hasil pertemuan tersebut, Komisi C DPRD DIY akan mengoordinasikan langkah penanganan bersama.
Ke depan, direncanakan akan dilakukan pengangkatan sedimen yang mengendap di saluran irigasi dan drainase, disertai kegiatan pemeliharaan.
Dia berharap perbaikan saluran irigasi dan drainase di Km 14 Jalan Wonosari dapat memberikan solusi bagi para petani. Sehingga aliran irigasi kembali lancar serta produktivitas pertanian meningkat.
“Kedua tidak ada banjir lagi, selanjutnya diharapkan ada perbaikan dan perawatan juga,” tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita