Libur Sekolah, PHRI Bantul Optimistis Okupansi Hotel Sentuh 70 Persen
Cintia Yuliani• Minggu, 28 Juni 2026 | 22:30 WIB
Wisatawan sedang menikmati fasilitas yang ada di Hotel Litto Jogja di Dlingo. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
BANTUL - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul menilai awal libur sekolah saat ini belum begitu berpengaruh terhadap tingkat okupansi penginapan di Bantul. Sebab banyak keluarga masih disibukkan dengan proses pendaftaran sekolah maupun pemenuhan kebutuhan tahun ajaran baru 2026. Namun, okupansi hotel dipercaya akan meningkat saat pertengahan libur sekolah.
"Harapan kami di liburan sekolah ini tingkat okupansi bisa sampai 70 persen," kata Ketua PHRI Bantul Yohanes Hendra Minggu (28/6).
Menurut Yohanes, dibanding periode yang sama tahun lalu dengan kondisi tahun ini, diprediksi lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hal itu karena pada 2025 pemerintah mulai menerapkan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Sehingga banyak instansi menahan belanja dan kegiatan. Sementara pada tahun ini anggaran mulai kembali dikeluarkan, meski belum sebesar pada 2023 dan 2024.
Ia menjelaskan, pada 2023 dan 2024 sektor pariwisata mengalami puncak pemulihan setelah pandemi Covid-19. Bahkan, capaian saat itu melampaui kondisi sebelum pandemi pada 2019 karena tingginya antusiasme masyarakat untuk berwisata setelah masa pembatasan untuk keluar rumah.
Berbeda dengan kondisi saat ini. Meski masyarakat sudah bebas bepergian, kemampuan untuk berwisata masih terbatas karena daya beli belum pulih sepenuhnya. "Daya beli saat ini sangat rendah, karena tidak ada yang membuat peningkatan daya beli," katanya.
Yohanes menambahkan, penurunan tingkat hunian penginapan di Bantul mulai terasa sejak Mei 2025. Menurutnya, dampak Inpres Nomor 1 Tahun 2025 yang diterbitkan pada Februari mulai dirasakan beberapa bulan setelahnya. Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja akibat perubahan kebijakan upah minimum sektoral.
Ia menjelaskan, kenaikan UMK umum sebesar 6,5 persen, sedangkan UMK sektoral di bidang akomodasi mencapai 8,5 persen. Di sisi lain, anggaran kegiatan belum kembali normal sehingga beban operasional usaha meningkat.
Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dispar Bantul Markus Purnomo Adi memprediksi jumlah wisatawan selama libur sekolah tahun ini akan turun sekitar 23 hingga 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, ia mengaku tidak mengingat secara pasti jumlah kunjungan wisatawan pada libur sekolah tahun sebelumnya. "Mungkin di libur sekolah ini kisarannya disitu, mengacu pada tren libur Lebaran kemarin," katanya.
Menurut Markus, penurunan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi yang belum stabil. Banyak orang tua memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pendidikan anak, seperti seragam, sepatu, tas, maupun biaya lain menjelang tahun ajaran baru.
"Kemungkinan juga karena Gunungkidul muncul destinasi baru yang itu memang secara visual menarik orang untuk datang," sebutnya.
Markus memperkirakan puncak kunjungan wisatawan selama libur sekolah terjadi pada pekan kedua hingga ketiga masa liburan. Pada awal liburan, masyarakat umumnya masih disibukkan dengan proses pendaftaran ulang sekolah dan pemenuhan kebutuhan pendidikan. Sementara menjelang akhir liburan, perhatian kembali beralih pada persiapan masuk sekolah. (cin)