BANTUL - Korban perundungan alumni SMAN 2 Bantul mengaku telah didatangi pihak sekolah. Tujuannya untuk menanyakan alasan korban mengunggah utas yang sempat viral belakangan ini.
Korban yang memiliki akun bernama gh05tx0 mengatakan, saat empat guru SMAN 2 Bantul mendatangi rumahnya sekitar empat hari yang lalu, dia tidak bertemu langsung.
Sebab, tidak diizinkan oleh orangtuanya.
"Orang tua saya nyuruh saya di kamar saja pada saat itu, nggak usah bertemu pihak sekolah," bebernya saat dihubungi, Minggu (21/6).
Sehingga yang menemui keempat guru tersebut adalah ayah dari korban.
Dia pun berharap guru-guru yang dulu membuatnya mempunyai penyakit mental agar segera ditindaklanjuti dan sekolah diharapkan dapat berbenah.
"Dan tidak ada korban lagi selanjutnya," harapnya.
Ketua LSM Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi) Yuliani Putri Sunardi mengaku telah melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ untuk ditindaklanjuti.
Selain itu, dia akan membantu korban agar dapat kembali mempunyai semangat hidup dengan cara diajak ke psikolog melalui metode spring up.
"Saya dengar dia punya keahlian dalam bidang IT, kan sayang kalau nggak dikembangkan. Jadi saya mau bantu," jelasnya.
Guna memperbaiki sistem pendidikan di SMAN 2 Bantul, dia pun mengusulkan adanya sistem rolling guru, jabatan guru, hingga kepala sekolah.
Situasi di dalam sekolah juga harus dibenahi, tidak hanya muridnya saja. "Aku yakin di SMA 2 ini ada problem, tugas dinas untuk memperbaiki, aku sebagai masyarakat mengawasi," jelasnya.
Sekretaris Komisi D DPRD Bantul Herry Fahamsyah mengaku turut prihatin terkait perundungan di SMAN 2 Bantul.
Baca Juga: Dukung Jogja Kota Festival, Kampung Sayidan Digayengkan dengan Wisata Walking Tour
Fokusnya saat ini adalah pemulihan mental anak dan evaluasi dunia pendidikan tanpa saling menyalahkan, tetapi saling instropeksi.
Dia berharap kejadian ini menjadi evaluasi menyeluruh, tidak hanya di SMAN 2 Bantul, tetapi seluruh instansi sekolah yang ada di Bantul.
"Kita harus bersama-sama memastikan dan membuktikan bahwa Bantul layak anak," katanya.
Pihaknya akan mengawal agar korban yang saat ini dalam penanganan di DP3APPKB Bantul dapat ditangani dengan baik.
"Mari ciptakan iklim kondusif bagi tumbuh kembang anak dari keluarga, lingkungan, masyarakat, dan lingkungan sekolah," ajaknya.
Sementara itu, pihak sekolah telah mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun media sosialnya.
Tertulis bahwa pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen penuh untuk bersikap terbuka, kooperatif, jika di kemudian hari ada proses investigasi ataupun evaluasi.
Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis di Gunungkidul Masih Rendah, Warga Takut Ketahuan Penyakit
SMAN 2 Bantul siap bertanggung jawab atas kejadian ini. Apabila terdapat bukti adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang, maupun kelalaian yang dilakukan oleh oknum pengajar maupun pihak sekolah.
"Kami siap menerima sanksi serta konsekuensi sesuai dengan aturan kepegawaian dan perundang-undangan yang berlaku," tulis pernyataan resmi yang ditandatangani Kepala Sekolah Isti Fatimah, Jumat (19/6). (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun