BANTUL - Sejumlah organisasi mahasiswa di Bantul menggelar aksi unjuk rasa di simpang Klodran Senin (15/6). Aksi yang diikuti oleh puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (BEM UPY) ini menjadi wadah penyampaian kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa secara bergantian menyampaikan orasi dan membawa sejumlah aspirasi. “Pada aksi kali ini ada empat poin tuntutan yang kami bawa," kata koordinator aksi Navas, 26, saat aksi Senin (15/6).
Pertama terkait stabilitas harga BBM. Kemudian terkait penolakan sejumlah undang-undang yang dinilai menimbulkan polemik. Ketiga mengenai evaluasi sektor pendidikan, dan terkahirt soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Navas, mahasiswa tidak serta-merta menolak program MBG. Namun, mereka meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya agar program tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan sampai justru menjadi ruang bagi pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan dan membuka peluang terjadinya praktik korupsi,” katanya.
Navas yang berasal dari Indonesia bagian timur menilai, program MBG belum menjawab kebutuhan di sejumlah daerah. Khususnya di daerah tinggalnya. Menurutnya, masyarakat di daerah tertentu telah memiliki pola konsumsi pangan yang sesuai dengan kondisi lokal masing-masing.
Ia menyebut jumlah peserta aksi yang direncanakan mencapai 300 hingga 400 orang. Namun, sebagian peserta berhalangan hadir karena masih mengikuti aktivitas perkuliahan.
Navas menegaskan aksi tersebut bukan yang terakhir. Menurutnya, demonstrasi kali ini menjadi pemantik untuk membangun gerakan mahasiswa yang lebih besar di Bantul.
Sejumlah mahasiswa yang mengikuti aksi unjuk rasa sengaja memusatkan gerakan di wilayah Bantul karena menilai partisipasi gerakan mahasiswa di daerah tersebut masih relatif minim.
“Padahal banyak persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah,” katanya.
Sementara itu, peserta aksi lainnya Karepesina, 22, menilai, sejumlah kebijakan pemerintah lebih menguntungkan kelompok tertentu dibanding masyarakat luas. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah kenaikan harga BBM yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Masyarakat, termasuk para pedagang dan ibu rumah tangga, merasakan dampaknya secara langsung,” ujarnya.
Menurutnya, Bantul sebagai daerah dengan sektor pendidikan dan pariwisata yang cukup besar juga tidak luput dari dampak kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok.
Selain itu, ia turut menyoroti pelaksanaan program MBG yang menurutnya perlu mendapat pengawasan lebih ketat. Dia menyinggung adanya kasus dugaan keracunan yang menimpa sejumlah pelajar di beberapa daerah dan meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita