Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkal Sriharjo Kembangkan Konsep Lumbung Mataraman, Padukan Agroekowisata Jadi Motor Ekonomi Warga  

Cintia Yuliani • Minggu, 14 Juni 2026 | 08:30 WIB
POTENSIAL: Lumbung Mataraman Sriharjo menjadi agro-ekowisata yang bisa meningkatkan kesejahteraan warganya. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
 
POTENSIAL: Lumbung Mataraman Sriharjo menjadi agro-ekowisata yang bisa meningkatkan kesejahteraan warganya. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)  

BANTUL - Hamparan sawah yang membentang di kawasan Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri kini tak sekadar menjadi ruang produksi pertanian. Di atas lahan seluas hampir 1,9 hektare, Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Sriharjo tengah menumbuhkan sebuah konsep besar bernama Lumbung Mataraman, yang diharapkan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Berawal dari dukungan dana keistimewaan pada 2023 sebesar Rp 250 juta untuk tahap persiapan, pembangunan Lumbung Mataraman berlanjut pada 2024. Anggaran pun ditambah hingga Rp 750 juta guna membangun infrastruktur pendukung pertanian terpadu.

Baca Juga: Gelombang Laut Selatan Gunungkidul Diprediksi Capai 4 Meter, Satlinmas Rescue Siagakan Puluhan Personel saat Libur Akhir Pekan

Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun Khasanah mengatakan, Lumbung Mataraman tidak hanya dirancang sebagai kawasan pertanian biasa. Ttetapi menjadi model pertanian terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu ekosistem berkelanjutan. “Konsep besarnya adalah integrated farming atau pertanian terpadu,” ujarnya Jumat (12/6). 

Melalui konsep tersebut, limbah peternakan diolah kembali menjadi pupuk organik untuk lahan pertanian. Sebaliknya, limbah pertanian dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Siklus yang saling mendukung ini diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas petani.

Baca Juga: Donny Warmerdam Resmi Berpisah dengan PSIM Jogja 

Tak hanya berfungsi sebagai lahan produksi, Lumbung Mataraman juga akan menjadi pengembangan varietas pertanian dan peternakan. Berbagai pola tanam, teknologi budi daya, hingga pengelolaan peternakan diuji dan dikembangkan. 

Saat ini, lahan pertanian mulai ditanami berbagai komoditas sayuran seperti kangkung, sawi, dan terong. Sementara sektor peternakan telah mengembangkan puluhan ekor kambing melalui kemitraan yang dikelola badan usaha milik kalurahan (BUMKal) bersama kelompok peternak setempat.

Meski sektor pertanian masih dalam tahap pengembangan, geliat ekonomi mulai terlihat dari aktivitas yang tumbuh di kawasan tersebut. Pengelolaan Lumbung Mataraman melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Mulai dari kelompok wanita tani (KWT), kelompok tani, peternak, hingga kalangan pemuda.

Baca Juga: Redam jelang Derby DIJ, Legenda PSS dan PSIM Bersatu dalam Laga Kemanusiaan; di Atas Rivalitas 90 Menit di Lapangan Ada Persaudara

Kolaborasi itu menjadi salah satu kekuatan utama. BUMKal tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng sejumlah kelompok usaha warga untuk mengelola berbagai unit kegiatan yang ada.

 

Selain pertanian dan peternakan, kawasan ini juga dikembangkan menjadi agroekowisata. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati panorama persawaha. Tetapi juga dapat belajar langsung mengenai pertanian terpadu, pembuatan pupuk organik, pengelolaan peternakan, hingga pengembangan varietas tanaman produktif.

 

"Atraksi edukatif untuk anak-anak juga mulai kami siapkan, mulai dari memberi makan ikan dan kambing," rincinya. 

 

Di sisi lain, sektor kuliner justru menjadi unit yang paling cepat berkembang. Angkringan Lumbung Mataraman yang mulai beroperasi Desember 2025 kini menjadi ruang kreatif bagi anak-anak muda Sriharjo.

 

Pengelolaannya dipercayakan kepada komunitas Muda-mudi Budi Santoso (MBS). Mereka mengelola operasional kafe, promosi digital, hingga berbagai kegiatan kreatif yang menarik kunjungan masyarakat. “Ini menjadi media belajar bisnis bagi anak-anak muda,” katanya. 

 

Keberadaan angkringan tersebut juga membuka peluang usaha bagi 20 UMKM makanan dan minuman. Seluruh tenaga kerja yang terlibat, mulai dari barista, kasir hingga pekerja dapur merupakan warga Sriharjo.

 

Baginya, dampak yang ingin dibangun bukan sekadar keuntungan usaha. Lumbung Mataraman dirancang untuk membangkitkan ekonomi yang mampu menghubungkan berbagai sektor usaha warga.

 

Saat wisatawan datang untuk belajar pertanian terpadu, mereka berpotensi membeli produk UMKM, menikmati kuliner lokal, menginap di homestay warga, hingga mengunjungi destinasi wisata lain di Sriharjo. Rantai aktivitas ini diyakini mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas. “Harapannya bisa menjadi media pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. (cin/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#agroekowisata #Sriharjo #Kapanewon Imogiri #integrated farming #Lumbung Mataraman