BANTUL – Fenomena kelangkaan minyak goreng subsidi merek Minyakita juga terjadi di Bantul. Ini disebabkan karena distribusi yang terbatas. Akibatnya, para pedagang sembako di Pasar Bantul beralih menjual Minyakita nonsubsidi.
Pedagang sembako di Pasar Bantul Sulismiati, 75, mengaku, sudah satu tahun terakhir tidak menjual Minyakita bersubsidi. Sebab, pelanggannya cukup banyak, sedangkan pendistribusian Minyakita terbatas. Bahkan, tidak setiap bulan ada pendistribusian dari Pemkab Bantul.
"Kalau dari subsidi repot 30 dus aja, padahal datangnya berbulan-bulan, kalau suruh ngeratain nggak rata bikin pelanggan saya marah-marah," katanya saat ditemui di lapaknya Kamis (11/6/2026).
Sedangkan untuk Minyakita nonsubsidi, stoknya melimpah. Jika ia meminta ke distributor, stoknya selalu tersedia. Namun, harganya lebih mahal dibandingkan Minyakita bersubsidi. "Yang nonsubsidi Rp 20 ribu satu liternya, subsidi lebih murah Rp 16 ribu," ujarnya.
Ia mengaku memang beberapa pelanggan menanyakan stok Minyakita bersubsidi. Untuk menyiasatinya, ia selalu menawarkan Minyakita nonsubsidi maupun minyak dengan merek lain. Karena, ia sudah tidak pernah menjual Minyakita bersubsidi.
Sementara itu, pedagang sembako di Pasar Bantul Pipit, 55, mengatakan hal senada. Ia sudah tidak menjual Minyakita sejak dua bulan lalu. Pasalnya, belum ada pendistribusian kembali.
Baca Juga: Warga Gamping Sleman Alami 12 Luka Pembacokan, Satu Pelaku Masih Buron: Ini Penjelasan Polisi
"Biasanya saya dapat 20 dus, harganya Rp 15.500 saya jual Rp 16.000, tapi ya nggak mesti ada barangnya," jelasnya.
Biasanya, jika akan ada pendistribusian Minyakita bersubsidi dari pemerintah, pihak pasar akan memberitahu pedagang terkait kebutuhan stok. Kelangkaan Minyakita subsidi juga membuat pembeli lebih memilih minyak curah dan minyak bermerek Rizki karena dinilai memiliki harga yang lebih murah.
"Kalau curah Rp 19 ribu per liter minyak Rizki 800 mililiter Rp 17.000," bebernya.
Harga minyak bermerek Rizki pun turun. Sebelumnya Rp 218 ribu per dus berisi 12 kemasan dengan isi 800 mililiter per kemasan, kini hanya Rp 206 ribu. "Dulu Minyakita banyak yang beli sehari bisa empat orang dengan jumlah liter yang banyak, tapi sekarang paling cuma satu orang," sambungnya.
Selain karena kelangkaan Minyakita bersubsidi, pelanggannya yang sebagian besar memiliki warung di sekolah-sekolah juga banyak yang mengurangi jumlah pembelian minyak. Sebab, siswa di sekolah sudah mendapatkan MBG sehingga mereka jarang jajan di kantin sekolah.
Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul Prapta Nugraha mengatakan, memang stok Minyakita di Bantul mengalami kelangkaan. Di beberapa pasar tipe A, ada yang stoknya masih tersedia dan ada pula yang kosong serta sedang menunggu distribusi. "Jadwal pendistribusian tergantung permintaan dari pedagang," katanya.
Menurutnya, jadwal pendistribusian tidak rutin. Frekuensi distribusi dalam sebulan bergantung pada posisi stok di pasar. Setiap pasar juga memiliki jumlah distribusi yang berbeda-beda sesuai kebutuhan.
Sebagai contoh, untuk Pasar Imogiri, terdapat 19 pedagang yang masing-masing mendapatkan 30 dus Minyakita bersubsidi, sehingga total distribusi dalam satu kali penyaluran mencapai 570 dus. "Di pasar yang lain bisa lebih bisa kurang," tuturnya.
Meski begitu, pihaknya selalu memantau ketersediaan stok di lapangan dan mengoordinasikan dengan distributor saat pasokan mulai berkurang. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita