BANTUL - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada menurunnya pesanan pelaku usaha mebel di Bantul. Pengusaha Mebel di Bantul Suradal mengaku dalam beberapa bulan terakhir usahanya mengalami penurunan pesanan. Sebelumnya pengiriman produk mebel setiap hari masih berjalan dengan rutin, saat ini pengiriman tidak selancar dulu.
“Beberapa bulan terakhir bahkan nyaris tidak ada pengiriman. Kondisinya memang sedang sepi,” jelasnya Senin (8/6).
Mengatasi hal tersebut, pihaknya melakukan langkah efisiensi agar usaha tetap berjalan dengan cara mengatur jam kerja karyawan. “Jadi tidak semua karyawan masuk di hari jam kerja, ada yang seminggu masuk tiga hari,” katanya.
Terdapat belasan pekerja mulai dari tukang kayu, tukang amplas, hingga finishing. Namun, ia tetap memilih mempertahankan karyawannya di tengah menurunnya jumlah pesanan. “Yang kuat bertahan akan tetap berjalan, karena itu kami berusaha mempertahankan pekerja semampunya,” tuturnya.
Ia mengaku, sebelum dolar naik memang sempat terjadi kenaikan harga di beberapa bahan produksi. Tetapi tidak naik setinggi saat ini.
Wakil Ketua I DPRD Bantul ini mengatakan kayu sebagai bahan utama pembuatan mebel pun mengalami kenaikan. Namun, kenaikan lebih dirasakan dari bahan produksi impor. “Tiner, cat, paku, dan peralatan pertukangan ada kenaikan,” katanya.
Namun, ia tak hafal persis harga per bahannya. Hal tersebut membuat beban operasional pelaku usaha mengalami kenaikan. Peralatan kebutuhan bengkel dan pertukangan pun juga mengalami kenaikan.
Menurutnya, tidak hanya pelaku usaha di bidang mebel saja yang merasakannya, tetapi berbagai pengusaha sektor lain seperti homedecor, kerajinan lainnya pun bahan bakunya mengalami kenaikan. "Produk kerajinan yang menyasar pasar lokal menjadi kelompok yang paling terdampak," tuturnya.
Oleh karena itu, ia berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa normal kembali, agar daya beli masyarakat kembali meningkat. Dengan pulihnya daya beli masyarakat, sektor kerajinan maupun mebel yang menjadi andalan bagi ekonomi Bantul diharapkan dapat kembali bergerak.
“Kalau pasar bergerak lagi, pelaku usaha tentu lebih mudah bertahan,” pungkasnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita