Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terdampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah, Pengusaha Mebel di Bantul Mengeluh Pesanan Menurun

Cintia Yuliani • Senin, 8 Juni 2026 | 22:00 WIB
Ilustrasi rupiah dan dolar.
Ilustrasi rupiah dan dolar.

BANTUL - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada menurunnya pesanan pelaku usaha mebel di Bantul. Pengusaha Mebel di Bantul Suradal mengaku dalam beberapa bulan terakhir usahanya mengalami penurunan pesanan. Sebelumnya pengiriman produk mebel setiap hari masih berjalan dengan rutin, saat ini pengiriman tidak selancar dulu.

“Beberapa bulan terakhir bahkan nyaris tidak ada pengiriman. Kondisinya memang sedang sepi,” jelasnya Senin (8/6).

Baca Juga: Hasil Audit Nyatakan Tak Ada Malapraktik, Keluarga Naura Masih Tunggu Penjelasan Medis dari RSUD Prambanan

Mengatasi hal tersebut, pihaknya melakukan langkah efisiensi agar usaha tetap berjalan dengan cara mengatur jam kerja karyawan. “Jadi tidak semua karyawan masuk di hari jam kerja, ada yang seminggu masuk tiga hari,” katanya.

Terdapat belasan pekerja mulai dari tukang kayu, tukang amplas, hingga finishing. Namun, ia tetap memilih mempertahankan karyawannya di tengah menurunnya jumlah pesanan. “Yang kuat bertahan akan tetap berjalan, karena itu kami berusaha mempertahankan pekerja semampunya,” tuturnya.

Ia mengaku, sebelum dolar naik memang sempat terjadi kenaikan harga di beberapa bahan produksi. Tetapi tidak naik setinggi saat ini.

Baca Juga: Harga Bawang Merah dan Bawang Putih di Kulon Progo Kompak Naik, Maraknya Hajatan Jadi Salah Satu Penyebabnya

Wakil Ketua I DPRD Bantul ini mengatakan kayu sebagai bahan utama pembuatan mebel pun mengalami kenaikan. Namun, kenaikan lebih dirasakan dari bahan produksi impor. “Tiner, cat, paku, dan peralatan pertukangan ada kenaikan,” katanya.

Namun, ia tak hafal persis harga per bahannya. Hal tersebut membuat beban operasional pelaku usaha mengalami kenaikan. Peralatan kebutuhan bengkel dan pertukangan pun juga mengalami kenaikan.

Menurutnya, tidak hanya pelaku usaha di bidang mebel saja yang merasakannya, tetapi berbagai pengusaha sektor lain seperti homedecor, kerajinan lainnya pun bahan bakunya mengalami kenaikan. "Produk kerajinan yang menyasar pasar lokal menjadi kelompok yang paling terdampak," tuturnya.

Oleh karena itu, ia berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa normal kembali, agar daya beli masyarakat kembali meningkat. Dengan pulihnya daya beli masyarakat, sektor kerajinan maupun mebel yang menjadi andalan bagi ekonomi Bantul diharapkan dapat kembali bergerak.

“Kalau pasar bergerak lagi, pelaku usaha tentu lebih mudah bertahan,” pungkasnya. (cin) 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pelaku usaha #pengusaha #Bantul #mebel #nilai tukar rupiah