Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berangkat Ceria, Naura Tak Pernah Sadar Lagi: Begini Cerita Orang Tua Balita yang Meninggal usai Tiga Kali Suntikan sebelum CT Scan di RSUD Prambanan

Cintia Yuliani • Rabu, 3 Juni 2026 | 20:29 WIB
Ayah korban Nicohadiyanto. Cintia Yuliani/Radar Jogja
Ayah korban Nicohadiyanto. Cintia Yuliani/Radar Jogja

BANTUL - Balita tiga tahun asal Sitimulyo, Piyungan, Naura Dwi Meydita Putri, berangkat ke RSUD Prambanan dalam kondisi aktif, ceria, dan hanya hendak memeriksakan perkembangan lingkar kepalanya yang tak kunjung bertambah.

Namun, setelah menjalani rangkaian tindakan medis dan tiga kali suntikan sebelum tindakan computed tomography scan (CT Scan), Naura tak pernah sadar kembali hingga akhirnya meninggal dunia. Kondisi ini meninggalkan duka sekaligus pertanyaan yang hingga kini masih dicari jawabannya oleh keluarga.

Ibu korban Anastacia Niken Purwandari, 36, menuturkan awal dari pemeriksaan. Lingkar kepala Naura tercatat 46 sentimeter saat pemeriksaan di posyandu. Lalu petugas menyarankan periksa lebih lanjur ke puskesmas. Puskesmas menyarankan pemeriksaan ke klinik, namun ibu korban memilih rujukan ke RSUD Prambanan pada 23 Maret lalu.

Baca Juga: Dialog di UNM, Mentan Amran Respons Cepat Suara Mahasiswa dan Dosen

Dua hari kemudian, tepatnya 25 Maret, Naura menjalani kontrol pertama di rumah sakit tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan tinggi badan korban dalam kondisi normal, sementara ukuran lingkar kepalanya tetap berada di angka 46 sentimeter.

"Pada bulan Maret itu, (korban, Red) dikasih multivitamin dan evaluasi rujukan untuk bulan April 2026," katanya saat ditemui di rumahnya Rabu (3/6/2026).

Selanjutnya, 27 April sekitar pukul 07.30, Anastacia kembali membawa Naura ke RSUD Prambanan untuk menjalani kontrol lanjutan sesuai jadwal rujukan. Setelah melakukan pendaftaran, korban menjalani pemeriksaan tinggi dan berat badan sekitar pukul 08.00.

Baca Juga: Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji Terjerat Kasus TKD, HB X: Selesaikan di Pengadilan!

Sekitar pukul 08.30, korban dan ibunya bertemu dengan dokter yang menangani. Dalam pemeriksaan tersebut, lingkar kepala korban kembali diukur karena tujuan utama kedatangan mereka adalah berkonsultasi terkait perkembangan ukuran kepala anak.

"Hasilnya, lingkar kepala korban masih sama dan tidak bertambah," ujarnya.

Karena kondisi itu, dokter merujuk korban ke bagian radiologi untuk menjalani CT Scan. Anastacia sempat berkomunikasi dengan dokter radiologi dan mendapatkan penjelasan anaknya akan diberikan obat tidur melalui infus atau suntikan agar proses pemeriksaan dapat dilakukan. Setelah menerima penjelasan tersebut, ia menandatangani persetujuan tindakan medis.

Baca Juga: Dua Pemuda Asal Sanden Bantul Nekat Mencuri Alat Pertanian di 10 Lokasi Pesisir Pantai Kulon Progo

Menurutnya, sebelum CT Scan dilakukan, korban terlebih dahulu diberikan obat antialergi. Setelah menunggu sekitar 15 menit tanpa muncul reaksi seperti ruam atau bintik-bintik pada kulit, korban dibawa ke IGD untuk dipasang infus sebagai jalur pemberian obat.

Selama menunggu jadwal pemeriksaan, kondisi Naura disebut masih aktif, ceria, makan, minum, dan bercanda bersama ibunya.

Menjelang pukul 10.30, korban dipanggil masuk ke ruang CT Scan. Anastacia diperbolehkan mendampingi hingga anaknya tertidur sesuai arahan dokter. "Di ruangan radiologi itu, saya masuk, perawat menyiapkan obat-obatannya," tuturnya.

Setelah semua persiapan selesai, korban dibaringkan di alat CT Scan dan mendapatkan suntikan pertama. Obat tersebut sempat membuat Naura mengantuk dan mulai memejamkan mata. Karena melihat anaknya hampir tertidur, Anastacia meminta izin keluar ruangan dan diperbolehkan oleh perawat.

Baca Juga: Korsleting Listrik, Bawa Ban Bekas dan Oli Eceran Mobil Carry Terbakar di Srumbung, Magelang

Namun tak lama berselang, perawat memanggilnya kembali karena korban belum juga tertidur. Anastacia kembali masuk untuk menenangkan anaknya. Meski beberapa kali tampak mengantuk, korban terus membuka mata dan belum benar-benar tertidur.

"Akhirnya, sama dokter disuntikkan lagi untuk obat yang kedua," jelasnya.

Setelah suntikan kedua diberikan, kondisi serupa kembali terjadi. Korban sempat mengantuk tetapi kembali terbangun. Ia mulai rewel, menangis, ingin pulang, dan meminta bertemu kakaknya. Meski sudah berusaha ditenangkan, korban tetap menangis bahkan saat digendong ibunya.

"Dari situ, dokter RSUD Prambanan kembali memberikan suntikan ketiga kalinya kepada korban," sambungnya.

Baca Juga: Pecinta Literasi Bisa Merapat! Rekomendasi Toko Buku di Jogja yang Membuat Nostalgia

Setelah suntikan ketiga, korban akhirnya tertidur. Anastacia kemudian diminta menunggu di luar ruangan. Ia mengaku tidak mengetahui tindakan apa saja yang dilakukan selanjutnya di dalam ruang CT Scan.

Beberapa waktu kemudian, sekitar lewat tengah hari, dokter keluar dan menyampaikan korban mengalami muntah darah, sempat henti napas, dan telah dipasang alat bantu pernapasan. Dokter juga menyebut kemungkinan kondisi tersebut berkaitan dengan pemberian obat yang dilakukan lebih dari satu kali.

Korban kemudian dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Sementara itu, Anastacia masih menunggu di sekitar ruang CT Scan hingga sekitar pukul 13.00 ketika anaknya dibawa menuju ICU.

Baca Juga: Tak Diperpanjang PSIM Jogja, Jebolan Akademi Manchester City Merapat ke PSIS Semarang

Setibanya di ICU, Naura sudah dalam kondisi tidak sadar dan terpasang berbagai alat medis seperti ventilator dan kateter. Anastacia mengaku hanya bisa menunggu sambil menantikan penjelasan lebih lanjut dari dokter maupun perawat mengenai kondisi anaknya.

Saat menjalani perawatan intensif, korban lebih banyak didampingi oleh ayahnya karena Anastacia mengaku mengalami trauma. Dalam perkembangannya, dokter menyampaikan korban sempat mengalami beberapa kali kejang dan direncanakan untuk dirujuk ke RSUP Dr Sardjito.

Namun sekitar pukul 02.00 dini hari, keluarga dipanggil oleh pihak rumah sakit karena kondisi korban semakin kritis. Menurut orang tua korban, tim medis telah melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP), tetapi kondisi anak mereka tidak juga membaik.

"28 April 2026 pukul 02.20 itu, dia (korban, Res) sudah tidak ada (meninggal dunia, Red)," ceritanya.

Baca Juga: Korsleting Listrik, Bawa Ban Bekas dan Oli Eceran Mobil Carry Terbakar di Srumbung, Magelang

Sebenarnya keluarga tidak ingin persoalan ini menjadi perhatian publik. Mereka hanya ingin memperoleh penjelasan mengenai penyebab pasti yang dialami korban. Saat datang ke rumah sakit, kondisi Naura sehat, aktif, dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit selain masalah perkembangan lingkar kepala.

Namun setelah menjalani tindakan medis dan pemberian suntikan sebelum CT Scan, korban tidak pernah sadar kembali hingga akhirnya meninggal dunia.

"Di situ pun, sampai sekarang. Dokter yang menangani tidak memberikan penjelasan kepada pihak keluarga sebenarnya apa yang terjadi," terangnya.

Pun anaknya tidak memiliki keluhan kesehatan berarti. Batuk maupun pilek yang pernah dialami pun selalu sembuh. Karena itu, ia mempertanyakan kondisi yang menimpa putrinya setelah menjalani tindakan medis di rumah sakit.

"Kalau sesuai dengan SOP rumah sakit kenapa anak saya bisa seperti itu? Itu yang saya pertanyakan," tuturnya.

Baca Juga: Usai Taklukkan Persipuncak di Liga 4 Nusantara, Persak Kebumen Siap Curi Poin dari Tuan Rumah Persepam Pamekasan

Hingga kini, Anastacia belum mengetahui secara pasti jenis maupun tujuan dari tiga suntikan yang diberikan kepada anaknya sebelum CT Scan dilakukan. Pun pihak rumah sakit belum memberikan penjelasan, sehingga keluarga masih menyimpan banyak pertanyaan.

Di sisi lain, Naura pernah mengalami pneumonia atau radang paru saat berusia enam bulan. Namun penyakit tersebut telah sembuh dan tidak pernah kambuh hingga kejadian terakhir. Informasi mengenai riwayat kesehatan tersebut, juga telah disampaikan kepada dokter yang bertugas di ICU.

"Karena dulu anak saya lahir dan di rawat di situ. Jadi, kalau rekam medisnya kan ada di situ," tambahnya. 

Selama hidupnya Naura hanya pernah menjalani rawat inap satu kali saat masih bayi dan satu kali lagi ketika peristiwa terakhir tersebut terjadi.

"Jadi, dia rawat inap cuma sekali itu dan sekali saat kejadian terakhir. Setelah itu sampai dia meninggal pun enggak pernah rawat inap, kecuali untuk kejadian yang terakhir itu," paparnya. 

Baca Juga: Eks Penyerang Bundesliga Melvyn Lorenzen Santer Dirumorkan Merapat ke PSS Sleman, Huistra: Lihat  Negosiasinya Nanti

Ayah korban Nicohadiyanto, 36 berharap pihak rumah sakit bersikap terbuka dan memberikan penjelasan menyeluruh mengenai apa yang sebenarnya dialami putrinya.

Menurutnya, keluarga membawa Naura ke rumah sakit hanya untuk memeriksakan kondisi lingkar kepala yang tidak mengalami perkembangan sejak Januari hingga April 2026 dan tetap berada di angka 46 sentimeter.

"Kita enggak tahu ya itu tidak berkembang karena apa. Makanya diperiksakan di rumah sakit itu," imbuhnya. (cin/wia)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Sedasi #RSUD Prambanan #balita meninggal #ct scan #Malapraktik