BANTUL - Kasus leptospirosis di berbagai daerah belakangan ini cukup marak. Di Kabupaten Bantul, Januari hingga akhir Mei lalu terdapat 123 kasus leptospirosis, enam di antaranya meninggal dunia. Sementara di Gunungkidul setidaknya 33 warga positif leptospirosis, tujuh di antaranya tak bisa diselamatkan.
Kepala Bidan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, pasien leptospirosis yang meninggal dunia lebih banyak disebabkan keterlambatannya dalam mengakses fasilitas layanan kesehatan. "Jika pasien mengarah ke gejala leptospirosis sesegera mungkin dibawa ke fasilitas layanan kesehatan terdekat," anaknya Selasa (2/6).
Dari 123 kasus leptospirosis itu tersebar di 17 kapanewon. Empat kapanewon yang mempunyai kasus terbanyak yakni Kapanewon Bantul dengan jumlah 16 kasus, Kapanewon Kasihan 15 kasus, Kapanewon Pandak 14 kasus serta Kapanewon Sewon 10 kasus. "Sisanya tersebar di 13 kapanewon lain di Bantul, namun dengan jumlah kasus dua hingga sembilan kasus," katanya.
Baca Juga: Persak Kebumen Siap Kumpulkan Poin Kontra Tuan Rumah Pamekasan dalam Laga Lanjutan Liga 4 Nasional
Leptospirosis adalah penyakit infeksi bakteri Leptospira yang menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka atau selaput lendir mata, mulut, hidung saat kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi, terutama saat musim hujan atau banjir.
Sementara itu Direktur RSUD Saras Adyatma Bantul Tri Wahyuni mengatakan, warga Bantul diminta lebih waspada terhadap penyakit ini. Pasalnya, awal Januari hingga Mei lalu telah ada 49 pasien leptospirosis yang dirawat di rumah sakit yang dipimpinnya itu. "Dari 49 pasien, empat pasien dinyatakan meninggal," katanya.
Pasien pengidap penyakit ini pun dari berbagai kalangan yakni mulai dari mahasiswa, pedagang, dan anggota TNI. Namun, sebagian besar adalah petani. Pasalnya, petani dinilai rawan terpapar penyakit leptospirosis, karena kebanyakan petani tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot.
Gejala yang dialami pasien leptospirosis adalah demam tinggi, menggigil, nyeri otot hebat, mata merah tanpa disertai kotoran mata, sakit kepala, kelelahan berlebihan, mual, muntah, tidak nafsu makan, atau diare, dan muncul bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang saat ditekan.
Ia pun menyarankan agar masyarakat terhindari dari penyakit ini, bisa menggunakan alat pelindung jika akan beraktivitas. Selalu kenakan sepatu bot dan sarung tangan tahan air saat membersihkan selokan, berkebun, atau membersihkan area pasca-banjir.
Selain itu, tutup luka terbuka, pastikan semua luka, goresan, atau lecet pada kulit tertutup rapat dengan perban tahan air sebelum beraktivitas di tempat yang berisiko. "Hindari genangan air. Jangan berenang atau berjalan di air yang mungkin terkontaminasi terutama setelah banjir," tandasnya.
Di Gunungkidul, Dinkes setempat mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran leptospirosis. Hingga akhir Mei 2026, jumlah kasus penyakit yang ditularkan melalui bakteri dari urine tikus ini sudah melampaui total temuan sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan data Dinkes Gunungkidul, jumlah warga dinyatakan positif leptospirosis tahun ini sudah melebihi angka tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, hanya ditemukan 30 kasus dengan satu korban jiwa.
Entomolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Gunungkidul Eko Mujiarto mengatakan, tren kenaikan kasus tahun ini perlu menjadi perhatian serius. Upaya pencegahan harus dilakukan bersama agar jumlah penderita maupun angka kematian tidak terus bertambah.
"Kalau tahun lalu ada 30 kasus dengan satu kematian, sampai akhir Mei tahun ini sudah ada 33 kasus dan tujuh warga meninggal dunia,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (2/5).
Baca Juga: Pemain Asing PSIM Jogja Rahmatsho Rahmatzoda Kembali Dipanggil Timnas Tajikistan
Menurutnya, kasus leptospirosis tersebar di lima kapanewon. Masing-masing satu kematian dilaporkan di Kapanewon Nglipar, Semin dan Gedangsari. Sedangkan, di Kapanewon Ngawen serta Playen masing-masing terdapat dua kasus kematian.
Untuk jumlah kasus terbanyak ditemukan di Kapanewon Nglipar dengan total sepuluh kasus. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan. “Terutama di wilayah yang memiliki aktivitas pertanian cukup tinggi,” jelasnya.
Eko menjelaskan, pola penyebaran leptospirosis hampir serupa dengan demam berdarah dengue (DBD) karena sama-sama berkaitan dengan kondisi kebersihan lingkungan. Namun, sumber penularannya berbeda.
“Kalau leptospirosis banyak disebabkan oleh tikus yang urinenya mengandung bakteri leptospira. Karena itu kebersihan lingkungan harus dijaga agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus,” katanya.
Dia menambahkan, angka fatalitas penyakit ini juga mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu. Oleh sebab itu masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala awal penyakit serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengarah pada leptospirosis.
Selain itu, sambung Eko, kelompok petani menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Saat beraktivitas di sawah atau area yang berpotensi terkontaminasi, petani disarankan menggunakan alat pelindung diri berupa sepatu boot dan sarung tangan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Wanda Abrar menegaskan pihaknya berkomitmen menekan penyebaran leptospirosis. Ia mengaku, berbagai langkah pencegahan terus dilakukan mulai dari kampanye perilaku hidup bersih dan sehat hingga penguatan layanan kesehatan.
Menurut Wanda, fasilitas kesehatan di Gunungkidul juga didorong agar lebih responsif dalam mengenali dan mendiagnosis gejala leptospirosis sejak dini. Langkah itu dinilai penting untuk mempercepat penanganan pasien dan menekan risiko kematian. (cin/bas/laz)
Editor : Herpri Kartun