BANTUL - Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul telah memberlakukan pembayaran parkir nontunai di sejumlah lokasi sejak Maret lalu. Namun sampai saat ini, cara tersebut dinilai belum efektif.
Kepala Dishub Bantul Singgih Riyadi mengatakan, kendala yang ditemukan di lapangan adalah masih banyaknya masyarakat yang memilih membayar tunai. "Karena rata-rata mereka tidak memiliki HP yang mendukung pembayaran melalui QRIS," jelasnya Minggu (31/5).
Selain itu, mayoritas juru parkir juga belum sepenuhnya familiar dengan model pembayaran nontunai karena keterbatasan sarana dan pengetahuan.
Namun secara bertahap, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi baik kepada para juru parkir maupun masyarakat. "Terutamanya sosialisasi bagi pengguna jasa parkir di Bantul," katanya.
Baca Juga: Terseret Rip Current, Dua Korban asal Malang Tenggelam di Pantai Parangtritis, Begini Kondisinya
Selama ini, pembayaran nontunai untuk parkir tersebar di 26 titik pasar dan satu titik di Stadion Sultan Agung (SSA). Namun pada 2027, kebijakan ini akan menyentuh hingga 100 titik parkir.
Juru parkir Pasar Bantul sisi selatan Pujianto, 58, mengaku, kebanyakan masyarakat yang datang adalah kalangan orang tua. “Bukan anakk-anak muda, orang yang ke pasar jarang main HP,” sebutnya saat ditemui Minggu (31/5).
Menurutnya, penerapan pembayaran parkir nontunai belum cocok diterapkan di pasar tradisional khususnya Pasar Bantul. Penggunaan QRIS lebih cocok diterapkan di pasar yang berada di kota, mal, maupun stadion.
Baca Juga: Terseret Rip Current, Dua Korban asal Malang Tenggelam di Pantai Parangtritis, Begini Kondisinya
Sementara itu, juru parkir Pasar Bantul sisi timur Suyadi, 62, menyebut, belum juga menerapkan metode cashless. Jika hal ini diterapkan, pengguna akan lebih sedikit. "Kemarin sudah sosialisasi, tapi mayoritas yang ke Pasar Bantul pakai uang cash, jadi belum efektif kalau QRIS," tuturnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita