BANTUL - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang semakin melemah berdampak pada penjual kerajinan batik kayu di Desa Wisata Krebet. Hal ini karena para perajin di Padukuhan Krebet, Sendangsari, Pajangan tidak menaikkan harga produknya. Sementara harga produksi bahan impor yang digunakan semakin naik.
Bahan impor yang digunakan perajin berupa Melamin Propan Pasti Gloss. Sebelumnya harga per galon Rp 245 ribu, naik menjadi Rp 290 ribu. Selain itu ada pula Sending Siller, dari Rp 195 ribu menjadi Rp 250 ribu per galon. Serta Tiner ND, dari Rp 95 ribu melambung hingga Rp 150 ribu per galon.
"Per galon isinya lima liter. Harga masih naik turun," jelas Riyadi Zibril, salah satu perajin batik kayu di Krebet Minggu (24/5).
Perajin yang menjabat sebagai wakil ketua Pengelola Desa Wisata Krebet ini mengaku belum berani menaikkan harga jual produknya. Karena langganannya masih berpatokan pada harga lama. Dia khawatir, kenaikan harga pada produk lama akan membuat pelanggannya berkurang. "Biasanya yang paling mudah itu bikin model baru, itu kita bisa bikin tarif baru juga," tuturnya.
Selama ini, dia hanya menjual produknya dari Rp 2 ribu hingga Rp 2 juta. Menyesuaikan besar dan kerumitan setiap produk. Sedangkan omzet yang diperoleh, disebutnya tak menentu. Dati Rp 15 juta hingga Rp 25 juta.
Perajin batik kayu lainnya, Slamet Munggur mengaku, keuntungan yang diperolehnya berkurang. Meskipun saat ini dia sudah mendapatkan pesanan 150 vas bungan dari Belanda. Kenaikan bahan impor pun tak serta-merta membuatnya menaikkan harga produk. "Kalau sudah berlangganan sangat susah menaikkan harga," beber pria berusia 58 tahun ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul Prapta Nugraha membenarkan, ada pembengkakan biaya produksi. Khususnya bagi pelaku UKM home decor. "Misal untuk furniture, tinernya impor," lontarnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita