BANTUL - Pendidikan antikorupsi di lingkungan perguruan tinggi terus diperkuat. Salah satunya melalui kegiatan kolaboratif Perkumpulan Penyuluh Antikorupsi Nasional (Perpaksinas), Penyuluh Antikorupsi Sahabat Integritas Jogja Istimewa (Paksiji), Inspektorat DIY, KPK dan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja.
Ketua Perpaksinas Master Yudi Ismono mengungkapkan, gerakan pendidikan antikorupsi harus dibangun secara bersama dan berkelanjutan. Melibatkan kampus, pemerintah, dan masyarakat. “Kolaborasi ini diharapkan menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat budaya integritas. Tidak hanya di lingkungan pendidikan, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Yudi kemarin (21/5).
Apa yang disampaikan Yudi ini sebagai respons digelarnya seminar bertajuk “Dari Diskusi ke Aksi: Merencanakan Bersama Program Pendidikan Antikorupsi sebagai Pondasi Integritas”. Seminar digelar secara daring melalui zoom meeting yang diikuti sekitar 250 peserta di gedung Rektorat ISI Jogja pada Rabu (20/5).
Ketua Forum Paksiji Totok Suharto menegaskan, pemberantasan korupsi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satunya melalui pendidikan. Menurut dia, pendidikan antikorupsi menjadi langkah strategis menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas sejak dini.
Sedangkan Rektor ISI Jogja Irwandi menekankan, pendidikan antikorupsi harus hidup dalam budaya akademik sehari-hari. Kampus seni memiliki kekuatan besar dalam menyampaikan pesan moral melalui pendekatan kreatif.
Dengan semangat kolaborasi, lanjut Irwandi, institusinya bersama para mitra berkomitmen mendorong lahirnya generasi yang berintegritas. “Demi masa depan Indonesia yang lebih bersih, adil, dan bermartabat,” tandasnya.
Seminar menghadirkan narasumber Prof. Sumaryati, Suyitno, MPd dan Megawati Attiyatunnajah. Terungkap dalam seminar itu pemberantasan korupsi harus dimulai dari ruang kelas, organisasi mahasiswa, karya seni, hingga budaya sehari-hari di lingkungan kampus. Seni dinilai memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan integritas ke masyarakat. Melalui karya visual, musik, film, hingga pertunjukan seni, nilai antikorupsi dapat disampaikan dengan lebih dekat. Menyentuh generasi muda.
Dalam acara itu juga ditandai dengan peluncuran implementasi pembelajaran antikorupsi melalui penguatan kurikulum, pengembangan modul, dan peningkatan kapasitas dosen. Langkah ini diharapkan menjadi model bagi kampus lain dalam membangun budaya akademik yang bersih dan bermartabat. (kus)
Editor : Herpri Kartun