Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ikan Mati di Sungai Belik, Pleret Diduga Akibat Kekurangan Oksigen dari Limbah Detergen

Cintia Yuliani • Selasa, 5 Mei 2026 | 20:45 WIB
Plh Kepala DLH Fenty Yusdayati. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Plh Kepala DLH Fenty Yusdayati. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Alasan matinya ikan di Sungai Belik, Padukuhan Pandes I, Wonokromo, Pleret bukan dari limbah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Grojokan Tamanan. Namun dari limbah detergen dari aktivitas pencucian drum.

"Jika dilihat dari hasil uji lab ikan, tidak ada kandungan logam di IPAL yang secara signifikan menyebabkan kematian ikan," jelas Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Fenty Yusdayati Selasa (5/5).

Namun jika dilihat dari perbandingan hasil uji laboratorium air sungai sebelum tercampur limbah dan setelah tercampur limbah, terlihat ada kenaikan parameter tertentu. Yaitu biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), nitrat, dan fosfat. "Mengindikasikan terdapat beban pencemaran organik," katanya.

Peningkatan parameter tersebut berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut di dalam air yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup. Pihaknya menduga, kematian ikan disebabkan oleh fenomena kekurangan oksigen (oxygen depletion) yang ada di detergen. Bukan karena limbah beracun dari IPAL.

 Baca Juga: Pengaruh Digitalisasi, Pendapatan Taksi Konvensional Catat Rp 1,45 Triliun di Kuartal Pertama 2026

“Seperti terlihat dari hasil uji lab kenaikan COD dan BOD yang menggambarkan terjadinya penurunan ketersediaan oksigen,” jelasnya.

Kadar nitrat dan fosfat yang tinggi juga menyebabkan potensi ledakan pertumbuhan organisme tertentu di perairan. Karena semakin memperburuk kondisi fluktuasi oksigen terlarut, terutama pada malam hari.

Menurut informasi di lapangan, sebelum adanya kejadian banyak ikan mati di Sungai Belik, terdapat aktivitas warga mencuci drum bekas detergen di sekitar aliran sungai. Meski air cucian tersebut masuk ke IPAL komunal, diduga tidak melalui proses pengolahan yang optimal.

Baca Juga: Suasana Latihan Menyenangkan, PSS Sleman Fokus Pemulihan jelang Final

“Efek toksik surfaktan dalam deterjen bisa merusak insang ikan sehingga ikan kesulitan bernapas,” terangnya.

Sementara itu, Dukuh Pandes I Budi Cahyono mengatakan, awalnya mendapat laporan dari warga yang melihat banyak ikan mengapung senin (20/4) sekitar pukul 08.00. Dari laporan warga itu tampak busa bertebaran di atas ikan. "Jenis ikannya sendiri itu ada tawes, nila, wader, dan juga sapu-sapu," katanya. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Grojokan Tamanan #detergen #limbah #pleret #Sungai Belik