Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Andalkan Sampah Dapur, Ekoenzim, dan Teknik Pruning, Pasutri di Palbapang Panen Lima Kg Murbai Organik Sekali Petik

Cintia Yuliani • Minggu, 26 April 2026 | 03:30 WIB
Cicilia Suryani Wati dan Markus Gunawan sedang memetik buah murbai di halaman rumahnya Selasa (21/4)
Cicilia Suryani Wati dan Markus Gunawan sedang memetik buah murbai di halaman rumahnya Selasa (21/4)

 

 

 

 

Di tengah maraknya praktik pertanian yang menggunakan pestisida, pasangan suami istri Cicilia Suryani Wati, 59, dan Markus Gunawan, 61, warga Ngringinan RT 7, Palbapang, Bantul, memilih jalur berbeda. Mereka membudidayakan buah murbai tanpa pupuk kimia maupun pestisida.

Dalam memulai usaha pertanian murbai, mereka terlebih dahulu mengolah tanah di sekitar pekarangan secara alami. Tanah dibiarkan apa adanya tanpa pupuk kimia, melainkan menggunakan pupuk dari bahan alami seperti daun-daunan, termasuk dari pohon pisang, serta kotoran kambing yang kebetulan mereka pelihara.

 "Lahan di depan rumah kami kurang lebih dua meter," katanya saat ditemui di rumahnya Selasa (21/4).

Baca Juga: Dosen Muhammadiyah Disiapkan Akses Kepemilikan Rumah, Ini Ragam Kerja Sama BPJS Ketenagakerjaan dan PP Muhammadiyah

Seiring berjalanannya waktu, mereka mengembangkan metode pemupukan dari sampah dapur, kotoran kambing, dedaunan di pekarangan, ekoenzim pupuk cair, hingga air cucian beras.Mereka juga membuat pupuk kompos dan jugangan. Dari awalnya hanya memiliki satu pohon murbai, kini melalui metode stek jumlahnya telah mencapai 20 pohon.

Menurutnya, sisa pestisida dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Sehingga penting mengembangkan pertanian tidak menggunakan pestisida.“Begitu dipetik bisa langsung dimakan, efek ke tubuh lebih sehat,” ujarnya.

Perawatan tanaman dilakukan dengan pemangkasan (pruning). Jika sebelumnya pemangkasan dilakukan secara paksa setelah panen untuk mempercepat pertumbuhan buah, kini justru tanaman berbuah terus hingga mereka kewalahan.

Baca Juga: AHY Kagum Transformasi Desa Mrican dari Kawasan Kumuh Jadi Hunian Sehat, Bakal Jadi Percontohan Nasional 

 Meski begitu, peremajaan pohon tetap dilakukan secara rutin "Kami bisa panen tiap hari, karena sistemnya pruning,” ungkapnya.

 

Dalam satu kali panen, hasil bisa mencapai dua kilogram, bahkan hingga empat sampai lima kilogram saat produksi tinggi. Selain di pekarangan rumah, tanaman murbai juga ditanam di area sawah miliknya. "Selain jualan buahnya, pembeli juga ada yang beli pohonnya, kami hargai Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu," bebernya.

Ia juga terhubung dengan jaringan konsumen makanan sehat, yang semakin menguatkan keputusannya untuk bertani secara alami. Selain itu, pemilihan untuk menanam pohon murbai dan menjualnya didasarkan pada tingginya permintaan pasar.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non-subsidi Ancam Operasional Bus Sekolah Gratis di Gunungkidul

 Produk murbai dijual di Pasar Organik Kamisan Jalan Kaliurang, Sleman, dititipkan di warung-warung sekitar Gereja Ganjuran, serta dipasarkan secara online.

 Penjualan langsung ke konsumen dipatok Rp 100 ribu per kilogram, sedangkan untuk dijual kembali oleh pembelinya dihargai Rp 85 ribu hingga Rp 90 ribu. "Harga jual di Pasar Kamisan untuk kemasan 250 gram Rp 50 ribu," katanya.

Jika tidak habis terjual, buah dititipkan di warung dekat gereja. Buah yang sudah tidak layak konsumsi namun masih baik akan diolah menjadi selai. (cin/pra) 

 

Editor : Heru Pratomo
#murbai #ekoenzim #pruning #sampah dapur #Palbapang Bantul