BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menghadirkan program sekolah pertanian di 32 sekolah jenjang SD, SMP, dan SLB. Hal ini merespons turunnya minat generasi muda yang bercita-cita menjadi petani.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dikpora) Bantul Nugroho Eko Setyanto mengatakan, 32 sekolah tersebut dipilih berdasarkan kesepakatan dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul. "Pertimbangannya pemerataan dan kesiapan sekolah dan alokasi anggaran baru untuk 32 sekolah," bebernya Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, salah satu pertimbangan dalam penentuan sekolah adalah kesiapan lahan. Meski demikian, Pemkab Bantul berencana agar seluruh sekolah di Bantul dapat mengikuti program pertanian sekolah secara bertahap.
Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan, Produksi dan Pengembangan Usaha Pertanian (P3UP) DKPP Bantul Imawan Eko Handriyanto menyebut, program ini tidak hanya menyasar sekolah. Ke depan, program serupa juga rencananya akan menyasar kalurahan hingga kapanewon dengan target pelajar atau anak muda.
Sebanyak 32 sekolah yang terpilih dalam program pertanian sekolah telah mulai berjalan secara bertahap sejak April-Mei. "Intinya kegiatan sosialisasi budi daya pertanian di sekolah, pengenalan budi daya pertanian di sekolah," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini mencakup teori dan praktik menanam. Baik di lahan pekarangan maupun menggunakan media wadah seperti galon atau polibek.
Pada tahap pengenalan dasar, setiap sekolah diberikan bantuan benih berupa 150 cabai, 150 terong, dan 150 tomat. "Dapat pupuk MKP dan kompos," tuturnya.
Baca Juga: Konsistensi Cahya Supriadi Jadi Kunci PSIM Jogja, Siap Tuntaskan Musim di Lima Laga Sisa
Program ini bertujuan untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda. Agar mereka mengetahui, mencintai, dan merasa senang dengan pertanian. Harapannya, mereka dapat tertarik untuk menjadi petani di masa depan dan menekuni bidang tersebut.
Selain itu, program ini juga ingin mengubah pandangan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang berat dan tidak menarik. Dengan modernisasi, pekerjaan ini dinilai dapat menjadi lebih mudah dan efisien.
Pertanian juga tidak hanya sebatas menanam di sawah. Tetapi mencakup berbagai aspek lain. Seperti sarana produksi pupuk dan benih, hingga pengolahan hasil pascapanen. "Gen Z juga tidak terlalu tahu pertanian sampai saya hadir itu nggak ada yang mau cita-cita jadi petani," katanya.
Karena itu, program pertanian sekolah dinilai penting untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian. "Kalau bisa kurikulum pertanian dimasukin," harapnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita