BANTUL - Tim SAR gabungan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) kembali mencari korban laka laut Angger Raditya Nanda Pradana (ARNP) asal Panggungharjo, Sewon yang hilang di Pantai Parangtritis saat bermain surfing Minggu (19/4). Sebanyak 150 personil dikerahkan sejak pagi sekitar pukul 05.00 untuk menyisir tepi pantai, tebing, sampai ke Pantai Parangkusumo. Namun, penyisiran belum membuahkan hasil.
Sekretaris Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Parangtritis dan Depok Rodhiva Wahyu mengatakan, pencarian kembali dimulai pukul 08.00 dengan menggunakan tiga jetski. Namun, satu unit jetski mengalami masalah karena mesin terlalu panas. Sehingga menggunakan dua jeski untuk melakukan pencarian korban.
“Kita susur ke arah timur kurang lebih dua sampai tiga kilo meter (dari TKP, Red),” katanya saat ditemui seusai pencarian korban di Pantai Parangtritis Senin (20/4).
Sementara ke arah barat intensistas pencarian dikurangi. Sebab informasi dari nelayan arusnya mengarah ke timur. “Jadi diduga kuat saat ini korban berada di timur tempat kejadian perkara,” bebernya.
Baca Juga: Kebakaran Hebat Melanda Kampung di Sabah Malaysia, Hampir Seluruh Pemukiman Penduduk Terbakar
Gelombang tinggi dan kondisi arus sempat menjadi kendala dalam proses pencarian. Meskipun gelombang mengarah ke timur, namun, kecepatannya juga tidak terlalu kuat.
Tim SAR juga menggunakan drone untuk mencari korban dari tepian pantai. Dari drone tim SAR sempat melihat objek yang diduga korban. Kemudian mereka menghubungi tim SAR yang berada di di tengah pantai menggunakan jetski untuk mengecek ke lokasi.
Teman-teman kelas korban dan keluarga yang sedang menggungu di dekat pos SRI Pantai Parangtritis pun sempat berlarian menunju ke tepi pantai setelah mendengar kabar tersebut.
Tim SAR yang menggunakan jetski kemudian mengarah ke lokasi. Namun, setelah sampai ke lokasi, ternyata yang ditemukan bukan korban tetapi apung-apung jaring.
“Akhirnya kita pinggirkan biar nanti seandainya muncul lagi tidak dikira objek,” tuturnya.
Sementara itu, atlet surfing sekaligus teman satu kelas korban, SPP, 16, mengatakan, awal mulanya ia mengajak dua korban ARNP yang masih dalam pencarian dan Angga Hendra Saputra yang selamat pada saat kejadian ke Pantai Parangtritis untuk bermain.
Saat kedua korban menyusul SPP ke Pantai Parangtritis, SPP sedang melatih orang lain bermain surfing. Sehingga belum bisa mengajari korban bermain surfing. Korban sempat diingatkan agar tidak bermain surfing sendiri jika tanpa diajari olehnya dan diminta untuk menunggu.
“Tiba-tiba ikut saya (main surfing, Red) kan pas lagi ada tamu, jadi ngga saya perhatikan, tiba-tiba langsung terbawa ke tengah,” katanya.
Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Parangtritis dan Depok Arief Nugraha mengatakan, kedua korban menggunakan papan surfing yang telah tersedia di bibir pantai Dan bermain surfing tanpa SOP.
“Jadi saat terbawa arus ke selatan terhempas ombak otomatis lepas dari papan surfing tersebut,” jelasnya.
Sebenarnya korban sempat dijangkau oleh tiga petugas. Petugas pertama sudah sempat menjangkau. Namun, berhubungan berada di daerah penikel atau gelombang terakhir paling selatan, korban sempat terhempas kurang lebih lima sampai tujuh kali. Dilanjutkan tim penolong berikutnya dan terlepas kembali karena tergulung-gulung ombak.
Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming PSS Sleman vs Persiku Kudus, Tekad Super Elja Rebut Puncak Klasemen
“Sudah lemas korban, ada kemungkinan sudah pingsan,” katanya.
Lanjutnya, kata dia, Pantai Parangtritis memang bisa digunkan untuk surfing karena memang gelombangnya tinggi. Sebab, bermain surfing harus berada di area rip current agar bisa berjalan.
“Kemarin memang sudah masuk (ke rip current menggunakan papan surfing, Red), tapi tidak sesuai SOP makannya terjadi kecelakaan,” katanya.
Sementara itu, tetangga korban Rusli Bimo Wicaksono mengatakan, korban terkenal dengan sosok yang rajin, pintar, dan ramah. Korban pun merupakan atlet karate sejak SMP dan sekarang melanjutkan pendidikan di SMA N 1 Pundong di Kelas Khusus Olahraga (KKO).
“Sama sekali kami dari tetangga tidak pernah tahu korban ada kegiatan surfing selain memang prestasi karate,” katanya.
Pantauan Radar Jogja, orang tua korban menunggu di tepi pantai dengan mata merah dan mengeluarkan air mata. Ayah korban bahkan sempat diberikan oksigen karena tidak kuat menahan kesedihan. Beberapa teman sekelas dan keluarga korban juga setia menunggu di tepi pantai, berharap korban segera ditemukan. (cin)
Editor : Bahana.