BANTUL - Menurunkan angka kemiskinan dan mendukung kebutuhan kesehatan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul mengusulkan sistem pengelolaan air minum (SPAM) untuk ketersediaan air bersih di tiga titik. Tersebar di Kamijoro (Pajangan), Dlingo, dan Pleret.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut, daerah miskin di Bantul kebanyakan mengalami krisis air. Artinya, wilayah yang krisis air diperlukan SPAM untuk menurunkan angka kemiskinan. “Di mana ada krisis air, di situ angka kemiskinan tinggi,” sebutnya Minggu (19/4).
Ia mencontohkan adanya krisis air di Wukirsari, Selopamioro, dan Muntuk. Tiga wilayah tersebut juga termasuk tingkat kemiskinan tinggi. “Ada pengolahan industri rakyat yang butuh air. Ada warung-warung yang butuh air,” lontarnya.
Jika tidak ada air maka tidak ada aktivitas ekonomi. Di tengah efisiensi, pihaknya terus meyakinkan kementerian mengenai kebutuhan warga Bantul. “Karena itu berbiaya tinggi, APBD jelas tidak mungkin mencukupi,” tuturnya.
Rencananya masih ada perbaikan terkait kriteria dan syarat teknis lain yang harus segera dipenuhi. Nantinya, pihaknya akan melakukan pendadaran lanjutan terkait dengan pengajuan SPAM. “Rencananya dibiayai oleh Kementerian PU,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Jimmy Alran Manumpak Simbolon mengatakan, Tiga lokasi SPAM dipilih karena memiliki pertimbangan masing-masing. Kamijoro, Pajangan diproyeksikan sebagai wilayah pengembangan perumahan, kampus, dan rumah sakit. Dlingo sebagai bagian upaya pengentasan kemiskinan. “Lalu Pleret sebagai salah satu syarat untuk pengelolaan sampah Danantara," katanya.
Hanya saja, besaran anggaran masih belum ditentukan. Sebab, pihaknya masih fokus memperbaiki detail engineering design (DED) terlebih dahulu karena masih ada masukan dan koreksi dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita