BANTUL - Berawal dari pengangguran dan tidak memiliki keahlian, Samsudin, warga Watugedug, Guwosari, Pajangan memanfaatkan singkong yang ditanam orang tuanya menjadi olahan bernilai jual.
"Awalnya dulu nggak punya pekerjaan apa-apa, Bapak saya nanem singkong coba-coba dibuat tape, laku, diteruskan," jelasnya saat ditemui di rumahnya Selasa (31/3).
Lansia berusia 64 tahun itu telah menekuni usaha tape singkong sejak 1986 dengan di bantu oleh istrinya. Berkat ketekunannya, ia mampu menghidupi istri dan kedua anaknya.
Di padukuhannya, sebenarnya tidak hanya ia yang menjual tape singkong. Namun, Samsudin menjadi yang pertama memulai usaha tersebut dan tetap konsisten hingga sekarang.
Baca Juga: Lebaran Usai, Pembangunan Tol Jogja-Solo Seksi 2.2 Dikebut dan Gerbang Tol Segera Dibangun
Ia menjual tape singkong dengan harga Rp 5 ribu per setengah kilogram ke Pasar Niten, Giwangan, dan Bantul. "Ada juga yang ngambil sendiri," katanya.
Biasanya, pembeli memanfaatkan tape singkong sebagai bahan campuran es roti.
Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga 70 kilogram tape singkong. Omzetnya pun bisa mencapai jutaan rupiah per hari.
"Tape bisa tahan tiga hari kalau di suhu ruangan, kalau di kulkas bisa berminggu-minggu," tuturnya.
Sejak awal merintis usahanya, Samsudin tetap mempertahankan cara tradisional dengan menggunakan tungku kayu bakar. Ia juga tidak memakai bahan kimia maupun pengawet selain ragi.
Proses produksi dimulai pukul 05.00 hingga 15.00. Sementara distribusi dilakukan sejak pagi hari ke sejumlah pasar.
Ia menjelaskan, pembuatan tape singkong cukup sederhana. Singkong yang telah dikupas dipotong, dicuci, lalu direbus. Setelah itu, singkong didiamkan semalam dengan diberi air, kemudian direbus kembali.
"Lalu dicuci lagi, terus direbus lagi dua kali, setelah itu didinginkan dan diberikan ragi," rincinya.
Setelah itu singkong ditutup menggunakan daun pisang, plastik, dan kain selama satu malam. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita