BANTUL - Di era dewasa ini banyak anak muda yang tidak mengetahui tingalan jumenengan dalem atau peringatan ulang tahun kenaikan takhta raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Didorong kenyataan itu, Paniradya Kaistimewan menginisiasi kegiatan bertajuk“Sinau Sejarah” sebagai refleksi sejarah dan kepemimpinan.
“Sultan HB X naik takhta dalam penobatan pada 7 Maret 1989. Peringatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi, seperti upacara yang diselenggarakan setiap tahun,” ujar Kepala Subbidang Hubungan Antar Lembaga dan Penyebarluasan Informasi Paniradya Kaistimewan Rr. Wita Ratri Dewi saat acara Sinau Sejarah di SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, pada Sabtu (7/3/2026).
Dikatakan, jangan sampai tradisi itu hilang di tengah gempuran moderenisasi. Tradisi tersebut tak boleh luntur. Menurut Wita, tingalan jumenengan bukan sekadar seremonial.
Namun berisi harapan dan doa masyarakat. “HB X tetap sehat. Amanah dalam memimpin DIY. Panutan bagi rakyatnya,” harapnya.
Sejarawan UGM Baha Uddin mengatakan, alasan Jogjakarta yang dulunya kerajaan bergabung dengan RI tidak lepas dari keputusan HB IX dan Paku Alam (PA) VIII.
Keduanya memahami zaman ke depan akan berubah. Tidak lagi sama seperti masa sebelumnya.
“HB IX merupakan peletak dasar fondasi dari transisi masa kolonial ke republik,” tuturnya.
Dengan adanya fondasi tersebut, Amanat 5 September 1945 Jogjakarta ditetapkan bersifat istimewa.
Artinya, tetap memiliki karakter sebagai kerajaan tapi menjadi bagian dari republik.
“Meski menjadi bagian dari republik, tidak meninggalkan identitasnya sebagai sebuah monarki,” jelasnya.
Sekarang, HB X melanjutkan fondasi yang dibangun HB IX. Disadari tantangan yang dihadapi berbeda.
Tantangannya bagaimana membawa keraton tetap eksis di tengah perubahan yang sangat masif.
Karena itu, tingalan jumenengan dalem dapat dilihat sebagai upaya menempatkan keraton pada identitas asli.
Berakar pada kebudayaan Jawa agar tidak hilang. Dengan demikian, tingalan jumenengan dalem bukan hanya sekadar upacara seremoni.
“Tapi sebuah penegasan mengenai status keraton sebagai penjaga marwah kebudayaan Jawa,” tandas Baha Uddin.
Penghageng II Kawedanan Purwo Aji Laksana Keraton Ngayogyakarta KRT Purwowinoto mengatakan, Tingalan Jumenengan Dalem Sultan HB X setiap tahun diperingati melalui upacara penobatan.
Filosofinya mengingat kembali. Merefleksi selama setahun ini apa yang sudah terjadi dan apa yang telah dilakukan.
Sekarang tingalan jumenengan dalem itu telah diperluas.Tidak hanya pada saat tanggal kenaikan takhta.
Rangkaian acara diawali dengan ngeblug. Membuat jeladren untuk pembuatan apem.
“Apem dilabuh ke Merapi, Parangkusumo, dan Gunung Lawu. Tujuannya untuk berkah masyarakat yang ada di sana,” katanya.
Selain itu, ada acarasugengan atau selamatan dipimpin putri-putri HB X. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi labuhan.
Tahun-tahun tertentu seperti Tahun Dal dan Wawu ada perbedaan dalam pelaksanaan labuhan.
Tak hanya di Merapi, Parangkusumo, dan Gunung Lawu, tapi juga di Dlepih, Tirtamaya, Wonogiri. (cin/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita