Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Panembahan Bodho di Wijirejo Bantul; Lima Abad Berdiri Kini Masih Kokoh, Disebut Jadi Cikal Bakal Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 2 Maret 2026 | 21:01 WIB

LIMA ABAD: Masjid Sabilurrosya’ad atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Panembaban Bodho di Dusun Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul.
LIMA ABAD: Masjid Sabilurrosya’ad atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Panembaban Bodho di Dusun Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul.

KABUPATEN Bantul menyimpan jejak-jejak syiar Islam masa lampau. Di Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak berdiri kokoh Masjid Sabilurrosya’ad. Tidak sekadar tempat beribadah, masjid ini merupakan saksi bisu dari babat alas dakwah Islam yang usianya bahkan lebih tua dari Masjid Gedhe Mataram, Kotagede.

Takmir Masjid Sabilurrosya’ad Haryadi menceritakan, masjid ini didirikan oleh Raden Trenggono atau yang lebih dikenal luas dengan gelar Panembahan Bodho. Di mana sosok itu sejatinya adalah pewaris takhta Adipati Terung di Krian, Sidoarjo pada masa akhir Kerajaan Majapahit.

Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya, Raden Trenggono memilih untuk ke jalan dakwah. Itu karena mengikuti arahan dari gurunya, Sunan Kalijaga. "Saat itu Raden Trenggono diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengelola masyarakat di wilayah barat Jogja ini," jelasnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (27/2).

Nama Bodho yang disematkan pada Raden Trenggono bukan berarti sosok tidak pintar. Tapi sebaliknya, menurut Haryadi, nama itu adalah simbol kerendahhatian seorang bangsawan yang menanggalkan kemewahan demi menyebarkan agama. "Beliau hidup di antara tahun 1.500 sampai 1.600. Meninggalnya 1.600 sehingga untuk mendirikan masjid ini di tahun 1571," ucapnya.

Setelah berhasil didirikan, lanjut Haryadi, arsitektur asli Masjid Sabilurrosya’ad ini menjadi sampel bagi Masjid Gedge Kotagede. Panembahan Senopati, raja Mataram Islam saat itu memerintahkan Raden Trenggono untuk merancang Masjid Gedhe Kotagede.

"Di sana arsiteknya, makanya sama dengan di Kauman sini, aslinya. Cuma sini itu sudah direnovasi dan sedemikian rupa. Kalau sana masih dijaga keasliannya. Bedanya hanya itu," ungkapnya.

Setelah membuat Masjid Gedhe Mataram Kotagede, sebagai bentuk penghormatan atas jasa Raden Trenggono, Panembahan Senopati kemudian memberikan gelar Panembahan dan tanah Yoso Dalem yang kini berkembang menjadi Kampung Bodon.

"Masjid ini merupakan cikal bakal. Masjid Kauman ini juga diberi titel Masjid Kagungan Dalem. Makanya masjid ini juga mendapat fasilitas dari Keraton juga," ungkap Haryadi.

Ia mengungkapkan, pada zaman dahulu strategi dakwah Panembahan Bodho dikenal sangat kultural. Sehingga salah satu warisan yang masih lestari hingga kini adalah tradisi takjil bubur saat Ramadan di Masjid Sabilurrosya’ad.

Bubur bukan sekadar pengganjal perut, melainkan media literasi agama yang cerdas. Secara filosofis, bubur berasal dari kata bibirin (hal yang baik), lalu beber (dijelaskan melalui pengajian), dan babar (meluas).

"Makanya karena kami mengerti sejarah itu, kami juga berniat atau menghormati para leluhur itu dengan menjaga dan melestarikan apa yang menjadi peninggalan beliau. Termasuk seni," katanya.

Selain itu, nama Kauman sendiri ternyata punya sejarah unik. Menurut Haryadi, dulunya kawasan ini hutan wijen (Pahawijenan). Namun seiring banyaknya santri Panembahan Bodho yang datang dari berbagai penjuru seperti Sedayu dan wilayah Bantul lainnya, tempat ini menjadi titik temu.

Para santri itu, lanjut Haryadi, kelak menjadi seorang kaum atau pemuka agama di daerah masing-masing. "Karena di sini pusat berkumpulnya para kaum, maka disebutlah Kauman," cetus Haryadi.

Oleh karena itu, di tengah zaman modern saat ini Haryadi ingin berkomitmen menjaga warisan nonfisik Masjid Sabilurrosya’ad, seperti seni rodat, salawat Maulud, hingga tradisi nyadran dan bakdo kupat. Baginya, merawat tradisi adalah bentuk birrul walidain atau berbakti kepada para leluhur.

"Bangsa yang besar adalah yang menghargai pahlawannya. Kami ingin generasi muda tidak lupa bahwa di sini, Islam tumbuh dengan keindahan budaya dan kearifan lokal," tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Masjid Kauman #kabupaten bantul #sunan kalijaga #Masjid Gedhe Mataram #Masjid Kagungan Dalem #Syiar Islam