BANTUL - Semangat pemberdayaan perempuan menggeliat di Padukuhan Biro, Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong. Sejak dibentuk 3 Juli 2025 lalu, Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Rejeki menjadi ruang baru bagi ibu-ibu untuk produktif dan belajar hal baru.
Ketua KWT Ngudi Rejeki Nastuti menuturkan, kelompok ini lahir dari inisiatif dukuh setempat yang masih baru menjabat. Saat itu, dusun-dusun lain sudah memiliki KWT, sementara Biro belum.
Ibu-ibu PKK pun dikumpulkan, lalu dibentuklah KWT Ngudi Rejeki pada Juli 2025. “Belum ada setahun, tapi sudah terasa sekali bedanya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya Jumat (13/2).
Sebelum ada KWT, aktivitas ibu-ibu cenderung berjalan sendiri-sendiri, yang memiliki sawah bekerja di lahannya masing-masing. Sementara yang tidak ke sawah tak mempunyai kegiatan rutin.
Kini, melalui sistem piket harian, ibu-ibu memiliki aktivitas terjadwal. “Yang sebelumnya tidak pernah ke sawah jadi tahu cara menanam. Setelah tahu hasilnya, di rumah juga ikut nanam sendiri, pakai pot,” jelasnya.
Anggota KWT Ngudi Rejeki awalnya sekitar 50 orang dari dua RT. Namun kini aktif sekitar 48 orang. Keikutsertaan tidak diwajibkan. Mengingat banyak ibu-ibu muda bekerja di pabrik dan tidak semua berminat di bidang pertanian.
“Siapa yang mau saja. Tidak kami batasi. Kalau dibatasi malah pada mundur,” katanya.
Dari sisi jumlah, KWT Ngudi Rejeki tergolong besar. Bahkan saat koordinasi dengan penyuluh pertanian dari BPP, jumlah minimal anggota hanya 20 orang. Meski tidak semua bisa hadir penuh dalam pertemuan rutin, kekompakan tetap terjaga, terutama dalam jadwal piket.
Lahan KWT memanfaatkan tanah kas desa yang dijatahkan kepada dukuh. Sebagian lahan yang sebelumnya ditanami pisang direlakan untuk dikelola KWT. Dengan kerja bakti, ibu-ibu membuka lahan.
Modal awal hanya Rp 100 ribu dari dana PKK. Dengan dana terbatas, mereka memilih menanam kangkung dan bayam cabut karena cepat panen. “Umur 25 hari sudah panen,” kenang Nastuti.
Hasil panen awalnya direncanakan untuk dijual ke pasar. Namun anggota sepakat membeli sendiri dengan harga sedikit di atas harga pasar. Jika di pasar Rp 2.000 per ikat, anggota membeli Rp 3.000. “Tidak apa-apa lebih sedikit, karena untuk kas kita juga,” katanya.
Hasil penjualan dimasukkan ke kas untuk membeli benih, pupuk, dan konsumsi pertemuan. Terkait hama, terutama pada terong, anggota mencoba cara alami dengan meletakkan daun serai di bawah tanaman.
Hingga kini, mereka belum menggunakan pestisida. Saat ini selain kangkung dan terong, KWT juga menanam jagung manis yang baru berumur dua minggu. Jagung dipilih karena dinilai tahan musim hujan.
Ke depan, Nastuti memiliki gagasan memaksimalkan lahan dengan membuat parit yang difungsikan sebagai kolam ikan, sementara tanah galian dijadikan untuk menenangkan sayuran.
Namun rencana itu belum terealisasi karena pertimbangan risiko gangguan hewan seperti kucing dan tikus.
“Harapan saya, ibu-ibu selain punya kegiatan juga punya penghasilan. Tidak minder dengan dusun lain. Kami juga ada, kami juga punya,” ujarnya.
Untuk kas, KWT Ngudi Rejeki tidak memberlakukan iuran rutin. Berbeda dengan KWT lain yang menarik iuran tiap pertemuan, di Biro kas diisi dari hasil pertanian.
Pertimbangan utamanya kondisi ekonomi anggota yang sudah terbebani berbagai iuran di perkumpulan lain. “Tujuan kami menggerakkan kegiatan positif. Daripada ngerumpi, lebih baik sambil kerja, sambil produktif,” tegasnya. (cin/pra)
Editor : Heru Pratomo