BANTUL - Warga Padukuhan Karangasem, Wukirsari, Imogiri selama ini kerap dilanda banjir saat musim hujan. Kondisi tersebut diperparah dengan masih adanya kebiasaan warga membuang sampah ke sungai. Oleh karena itu, tiga dari tujuh RT di Padukuhan Karangasem berinisiatif mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.
Penggerak Bank Sampah Padukuhan Karangasem Suprati Ningsih mengatakan, inisiatif pengelolaan sampah ini mulai berjalan sejak Agustus 2025. Selama enam bulan berjalan, program tersebut terbukti mampu mengurangi potensi banjir di wilayahnya. Selain itu, warga kini tidak lagi membuang maupun menimbun sampah sembarangan, khususnya ke sungai.
"Jadi sekarang dari sampah, bisa menghasilkan rupiah," katanya saat ditemui Jumat (23/1).
Tiga RT dengan 15 kepala keluarga, lanjutnya, menghasilkan 1-1,5 ton sampah. Jumlah itu, dikumpulkan selama tiga bulan dan baru diolah.
Melalui pengelolaan sampah ini, ia berharap masyarakat semakin memahami cara mengolah sampah organik. "Harapan kami masyarakat mampu membuat sampah menjadi bermanfaat," ucapnya.
Sementara itu, warga RT 2 Padukuhan Karangasem Rinta Safitri mengaku, sejak adanya inisiatif pengelolaan sampah di lingkungannya, ia selalu memilah sampah organik dan non-organik di rumah.
"Lalu sebulan sekali kita setor ke bank sampah, kita malah dapat duit," katanya.
Ia menjelaskan, proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk, diawali dengan memasukkan sampah sayuran dan buah ke dalam wadah. Kemudian ditambahkan tetes tebu dan air. Wadah tersebut ditutup dan didiamkan selama sekitar tiga bulan hingga bisa dipanen.
"Nantinya akan saya manfaatkan sebagai pupuk, kebetulan ada tanaman di rumah," katanya.
Dengan adanya pengolahan sampah di lingkungannya, kawasannya semakin bersih. Pun diharapkan idak ada lagi warga yang membakar sampah, serta dapat meminimalisasi pencemaran udara. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita