BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat kasus demam berdarah dengue (DBD) pada 2025 menurun dibanding 2024. Tahun lalu, total ada 576 kasus. Sedangkan pada 2024 mencapai 672 kasus.
“Paling banyak kasus DBD ada di Kapanewon Imogiri, Sedayu, Pleret, dan Pundong,” jelas Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto Jumat (9/1).
Upaya yang dilakukan oleh Dinkes Bantul untuk menanggulangi DBD dengan cara fogging hingga menyediakan RDT NS1 Combo atau alat tes cepat untuk mendeteksi infeksi virus Dengue secara simultan untuk dapat pendeteksian awal adanya DBD.
Lanjutnya, pihaknya akan memperkuat penanganan dan layanan DBD di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Kemudian penguatan promotif preventif di masyarakat, penguatan jejaring lintas program dan lintas sektor untuk gerakan serentak pemberantasan serangan nyamuk dan memberdayakan juru pemantau jentik (jumantik), serta meningkatkan kompetensi petugas kesehatan.
“Kita juga sudah memberikan surat edaran kewaspadaan DBD untuk organisasi perangkat daerah (OPD), fasyankes, maupun kalurahan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widyantara mengimbau, agar masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan mencegah adanya genangan air yang dapat mengundang nyamuk bersarang.
“Apabila ada anggota keluarga yang mengalami panas tinggi tanpa ada gejala lain lebih dari dua hari segara periksa ke fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan,” pesannya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita