BANTUL - Jumlah kunjungan wisatawan di Bantul pada libur Natal tahun ini turun dibanding tahun lalu. Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul mencatat, hingga pukul 19.00 pada Kamis (25/12), jumlah wisatawan hanya mencapai 38.650 orang. Sementara periode yang sama pada 2024, kunjungan mencapai 64.422 wisatawan.
Sub Koordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dispar Bantul Markus Purnomo Adi menjelasakan, jumpah kunjungan tersebut hanya mampu menambah pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata mencapai Rp 24.949.298.000. Angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan pada 2025 yakni Rp 49 miliar.
Baca Juga: LPJU di Jalan Tajemm-Kadisoka Kerap Mati, Warga Sering Alami Kecelakaan saat di Tikungan
Menurutnya, penurunan jumlah kunjungan wisatawan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Mulai dari daya beli masyarakat hingga kondisi cuaca ekstrem.
“Masih terkait juga karena ada pelarangan, terutama di Jawa Barat,” katanya saat dihubungi lewat sambungan telepon Jumat (26/12).
Padahal berdasarkan data kunjungan melalui aplikasi Visiting Jogja, wisatawan asal Jawa Barat menduduki peringkat teratas penyumbang kunjungan ke DIJ. Hanya saja, faktor libur sekolah yang tidak serentak juga memengaruhi angka kunjungan wisatawan pada libur Natal tahun ini. “Kalau tidak salah, Jawa Barat itu baru mulai libur 29 Desember,” ungkapnya.
Selain itu, kedekatan libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dengan bulan puasa dan Idul Fitri dalam beberapa tahun ke depan turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk berwisata. “Orang jadi mikir, mau liburan sekarang atau nanti Lebaran, karena jaraknya cuma sekitar dua setengah bulan,” katanya.
Markus menyebut, Pantai Parangtritis dan kawasan pantai barat Bantul masih menjadi pilihan utama wisatawan. Namun, dia mengimbau agar pengunjung mematuhi aturan keselamatan saat berwisata. “Kami minta mengikuti petunjuk yang dipasang teman-teman SAR,” tegasnya.
Sebab sejumlah kejadian wisatawan terseret arus sebelumnya masih terjadi. Padahal, sudah ada rambu peringatan di area rip current atau palung laut. “Yang terseret itu berada di area rip current. Di situ sudah dipasang rambu, tulisan, dan bendera merah sebagai tanda daerah berbahaya,” ujarnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita