BANTUL - Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul memastikan sejumlah destinasi wisata di wilayahnya tetap aman dikunjungi selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Meski terdapat beberapa kawasan yang memiliki potensi longsor, khususnya di wilayah perbukitan.
"Kawasan yang berpotensi mengalami longsor berada di wilayah perbukitan, seperti kawasan Mangunan, Wukirsari, hingga Bukit Bintang," jelas Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dispar Bantul Markus Purnomo Adi Selasa (9/12).
Baca Juga: PSBS Biak Resmi Pecat Divaldo Alves, Rekrut Agus Sugeng sebagai Pelatih Baru
Markus menjelaskan, imbauan telah disampaikan kepada para pengelola destinasi wisata sejak 22 Oktober 2025.
Termasuk desa wisata dan asosiasi terkait, agar memperhatikan kondisi lingkungan sekitar untuk dapat mengantisipasi bencana alam terutama longsor.
Pengelola diminta untuk rutin memeriksa kondisi pohon-pohon besar yang lapuk atau berpotensi tumbang.
Jika ditemukan pohon dalam kondisi rapuh, disarankan segera ditebang. Selain itu, kondisi tanah juga diminta terus dipantau, terutama jika muncul retakan tanah sebagai indikasi pergerakan lereng.
“Objek wisata tetap aman dikunjungi, cuman pengunjung juga tetap waspada kemudian juga mengikuti arahan petunjuk pengelola,” katanya.
Markus mengakui tidak ada pengawasan bencana longsor secara langsung dari Dispar Bantul.
Namun, BPBD Bantul melalui forum pengurangan risiko bencana (FPRB) disebut telah siaga menghadapi musim penghujan dan lonjakan wisatawan.
Pun hingga saat ini belum pernah terjadi longsor besar di kawasan destinasi wisata Bantul.
Namun longsor skala kecil pernah terjadi, salah satunya di wilayah Wukirsari. Longsor tersebut berada di sisi timur Wukirsari dan tidak sampai mengganggu titik utama aktivitas wisata, termasuk area pendopo batik.
Selain longsor, wilayah Kali Celeng juga pernah mengalami banjir sekitar tahun 2020-an, meski tidak sampai merusak bangunan pendopo wisata. Beberapa rumah warga sempat kemasukan air.
Dalam upaya mitigasi, dispar meminta pengelola destinasi wisata untuk terus memperhatikan kondisi lingkungan, mulai dari pohon, tanah, hingga penyediaan tanda-tanda evakuasi.
"Dimohon untuk tetap berkoordinasi dengan BPBD dan FPRB, terutama saat cuaca ekstrem dan ketika terjadi lonjakan kunjungan wisatawan," terangnya.
Menurutnya, mtigasi bencana tidak bisa dilakukan oleh satu daerah saja. Penanganan harus dilakukan bersama.
"Karena sungai di Bantul itu kan menerima Sleman dan Kota, jadi memang harus bareng-bareng,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Dispar Bantul untuk menyampaikan kepada pengelola wisata agar memperhatikan kondisi objek wisata untuk mengantisipasi terjadinya bencana.
"Yang kami lakukan memberikan sosialisasi tentang mitigasi bencana dan kesiapsiagaannya terhadap potensi terjadinya bencana di destinasi wisata kepada pengelola wisata," jelasnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita