Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Beradaptasi dengan Era Online, Pedagang Pasar Imogiri Akan Diajak Live Medsos untuk Berjualan

Magang Radar Jogja • Sabtu, 6 Desember 2025 | 04:27 WIB
SUDAH STANDAR : Suasana Pasar Imogiri yang dilengkapi dengan penunjuk arah dan bidang miring sebagai fasilitas penunjang akses difabel.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
SUDAH STANDAR : Suasana Pasar Imogiri yang dilengkapi dengan penunjuk arah dan bidang miring sebagai fasilitas penunjang akses difabel.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
 
Kota bergerak dinamis, berubah dalam sekejap mata. Sementara pasar, perlahan kian sepi tergerus kecepatan zaman. Begitupun yang terjadi di Pasar Imogiri. Letaknya yang masih satu kompleks dengan situs budaya sejarah Imogiri, tak lantas melindunginya dari isu modernitas saat ini. Sejumlah kios memilih berhenti, pun jumlah pembeli kian bisa di hitung jari. 
 
Dulunya, pasar Imogiri didominasi oleh pedagang pakaian. Kini, gantungan-gantungan baju tak lagi berderet, kios-kios pakaian memilih tutup satu persatu.
 
Bersamaan dengan itu, pengunjung yang melintas pun bisa dihitung dengan jemari. Sama dengan Nasib pasar umumnya, pasar yang masih satu Kawasan dengan kompleks makam raja mataram ini perlahan sepi dan kian sunyi dari derap kaki calon pembeli.
Baca Juga: Dinas Sosial Sleman Baru Penuhi Hak Dasar Disabilitas Berat, Salurkan Rp 300 Ribu Tiap Bulan
 
“Pedagang pakaian itu ya terlalu memprihatinkan karena sudah banyaknya online dan lain-lain. Itu penurunannya hampir hampir ada ya 30 persen lebih,” ungkap Turhadi, Kepala Staff Pengelola Pasar Imogiri.
 
Ia menerangkan, kini dari 65 pedagang pakaian yang terdata, hanya 30-40 pedagang yang masih aktif berjualan. Secara umum tercatat sebelumnya terdapat sebanyak 1.500 pedagang di Pasar Imogiri. Angka tersebut lantas mengalami penurunan besar sebanyak 300 pedagang berhenti berjualan di pasar tersebut.
 
“Pedagang pasar khususnya pakaian itu tutupnya hamper jam setengah empat baru bisa tutup (dulu). Sekarang apa? Sekarang pukul 12.00 itu sudah tutup. Karena Apa? Sudah tidak ada pengunjung dan pembelinya,” ujar Turhadi.
 
Baca Juga: Debt Collector Culik Ibu dan Anak di Magelang, Polisi Tangkap Empat Pelaku di Sleman
 
Menurut Fadzila yang telah berdagang selama 25 tahun di pasar tersebut, dagangannya pernah turun hampir 90 persen. Apalgi mengingat pasca-COVID 19 persaingan dagang merambah ke ranah penjualan daring. Hal ini menjadikannya lebih memilih menutup kios dagangan lebih awal di siang hari.
 
Fadzila sebenarnya juga sempat tertarik berjualan secara daring. Namun, di lain sisi ia juga menilai kehadiran pasar tradisional tetap harus dipertahankan. Aspek daring bisa lebih digencarkan dalam rangka promosi pasar tradisional misalnya. Hingga kini, menyikapi kondisi tersebut, salah satu strategi yang ia lakukan sebagai pedagang Adalah dengan menjual bermacam-macam kebutuhan pakaian.
 
“Berusahaan mengkomplitkan macam-macam dagangan biar kalau ada orang membutuhkan itu ada, nggak kecewa gitu. Terus mencari mitra, mitra pembelan yang biayanya beli di sini tapi dijualan,” sambung Perempuan asli Bantul ini.
 
Baca Juga: Saat Nataru, Dishub Bantul Siapkan Pos Pengaman dan Pemantaun di Kawasan Jembatan Kabanaran
 
Salah satu pengunjung Pasar Imogiri, Rini, mengaku masih menjadikan pasar tradisional sebagai salah satu rujukan kala mencari pakaian. Menurutnya, keunggulan pembelian secara langsung lebih membantu ketika ingin mengecek kualitas barang secara langsung, Dimana hal ini tidak bisa ia lakukan jika dilakukan melalui online shop.
 
“Iya, bisa milih bahan, terus sesuai, terus nanti ukuran badannya, lebarnya juga bisa ini. kalau pakaian seringnya langsung saya secara langsung soalnya kan bisa milih bahan terus lihat harga dan bahannya juga kalau di online shop kan nggak kelihatan bahannya,” kata Rini.
 
Belanja dari rumah, itulah realitas baru yang haru dihadapi para pedagang. Membeli pakaian jauh lebih menguntungkan melalui sentuhan layer. Barang murah dengan diskon, pilihan beragam, dan hemat waktu.
 
Baca Juga: Ketersediaan Parkir Malioboro Jadi Atensi Gubernur DIY HB X demi Wujudkan Kawasan Pedestrian, Pemkot Jogja Buka Peluang Investasi dengan Pihak Swasta
 
Tak bisa dipungkiri, masih banyak pedagang yang asing akan digitalisasi, utamanya yang telah lanjut usia. Digitalisasi hadir menambah sebuah fase penting perekonomian, baik bagi pedagang juga pembeli.
 
Berdasarkan data Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Perdagangan tahun 2025, pengguna e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai 73,06 juta orang, naik 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Pergeseran perilaku konsumen ini tidak diimbangi oleh kesiapan para pedagang tradisional, khususnya mereka yang berusia lanjut, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan usaha.
 
Baca Juga: Remaja 17 Tahun Siswa SMKN 1 Alian, Kebumen Ditemukan Tewas setelah Delapan Jam Pencarian
 
Turhadi menuturkan, Pemerintah Bantul sempat mengadakan sosisalisasi digitalisasi dan pelatihan penjualan daring sebanyak setidaknya tiga kali di Pasar Imogiri. Selain aspek teknis penjualan daring, Ia berharap pemerintah juga turut menekankan pada aspke promosi untuk meningkatkan pengunjung pasar tradisional.
 
“Saya berupaya untuk mengadakan promosi pasar dan untuk biar semuanya itu pasar tetap mengumandang pasar tidak hilang pasarnya, jadi pasar itu masih tetap eksis walaupun bagaimana itu ada online. Harapan saya jadi jangan sampai ketinggalan untuk pasar ini dengan digitalisasi,” pungkas Turhadi. 
 
Menanggapi fenomena tersebut, Zona Paramitha, Kepala Bidang Sarana Perdagangan, Dinas Koperasi UMKM Kabupaten Bantul, memandang fenomena pesatnya toko online sebagai peluang sekaligus tantangan pasar tradisional. Tranformasi digital para pedagang telah dilakukan secara bertahap oleh pemerintah dan baru mencapai 30-32 persen.
 
Baca Juga: Ansyari Lubis Ungkap Alasan Frederic Injai Belum Gabung Latihan Bersama PSS Sleman: Dia Masih di Prancis, Nikah
 
“Karena jauh dari pusat kotanya Bantul akhirnya mereka memang harus pelan-pelan. Kendala yang kedua terkait dengan usia. Jadi rata-rata penjual sekarang itu kan usia rata-rata 40-50 tahun ya, sementara di Pasar Imogiri yang sudah senior-senior antara 55 sampai bahkan 70 tahun saja masih jualan,” paparnya.
 
Hingga kini, Zona menerangkan, pendekatan transformasi terus dilakukan secara perlahan guna mempersiapkan pilot project di tahun 2026. Dalam project tersebut, Dinas Koperasi berencana menyediakan fasilitas ruangan khusus untuk pedagang dapat mulai praktik berjualan online seperti dengan melakukan live di platform online shop.
 
(Salwa Mutia)
Editor : Heru Pratomo
#tutup #rini #live medsos #Bantul #pedagang #digitalisasi #Pasar Imogiri #Covid-19 #kios #Dinas Koperasi UMKM