BANTUL - Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul memprediksi jumlah wisatawan pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (nataru) turun separo. Tercatat, nataru tahun lalu kunjungan mencapai 120.692 wisatawan.
“Tahun ini di 50 ribu sampai 55 ribu orang,” ungkap sebut Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi Rabu (3/12).
Penurunan ini, lanjutnya, dipengaruhi berbagai faktor yang sudah terlihat sejak awal tahun. Kondisi ini pun sudah terjadi sejak Januari-November yang turun 35 persen. Selain larangan study tour, alasan lainnya karena cuaca ekstrem.
“Membuat calon wisatawan lebih berhati-hati dan menunggu prakiraan dari BMKG sebelum bepergian,” bebernya.
Selain itu, daya beli masyarakat dinilai belum kembali seperti tahun-tahun sebelum pandemi. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah momentum nataru yang dalam beberapa tahun ke depan berdekatan dengan datangnya bulan puasa dan Idul Fitri. Sehingga masyarakat cenderung menahan anggaran atau menunda perjalanan.
“Karena 20 atau 19 Februari itu sudah mulai puasa. Ini saya yakin jadi pertimbangan orang untuk libur nataru,” ujarnya.
Meski demikian, Dispar Bantul memastikan berbagai persiapan tetap dilakukan untuk menyambut masa liburan akhir tahun. Di kawasan Parangtritis, pihaknya telah berkoordinasi dengan para pelaku wisata untuk menata area pantai. Kemudian memindahkan lapak yang tidak sesuai tempat, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Baca Juga: Ikatan Darah Meneror Jogja, Film Aksi Brutal Rasa Lokal Pukau Penonton di JAFF 2025
Dispar juga berencana menambah water barrier di titik-titik tempat pemungutan retribusi (TPR) agar lebih tertata. Selain itu, menjalin komunikasi dengan Forum Komunikasi Desa Wisata untuk memastikan kesiapan pengelola destinasi menghadapi nataru.
Seluruh langkah antisipasi, lanjut Markus, sudah mulai dilakukan sejak awal Desember. Agar pelayanan wisata tetap optimal meskipun kunjungan diperkirakan menurun.
Namun dia tetap mengimbau, agar wisatawan bisa menaati dan mengikuti arahan petugas wisata. Khususnya di Pantai Parangtritis yang masih menjadi jujukan wisatawan. “Pedagang tidak memanfaatkan momentu menaikkan harga,” pesannya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita