BANTUL - Lebih dari seribu petani di Kalurahan Parangtritis kini memanfaatkan program Electrifying Agriculture untuk kebutuhan pertanian. Program sejak akhir 2021 ini membuat sistem pengairan, penyiraman, hingga pemupukan beralih dari BBM ke listrik sehingga biaya produksi lebih efisien.
Ulu-Ulu Kalurahan Parangtritis Elyas Suprapta menjelaskan, sebelum elektrifikasi, petani mengandalkan BBM seperti Pertalite dan Pertamax. Namun pembeliannya dibatasi hanya 5 liter per hari dan harus memakai surat pengantar kelurahan.
Namun dengan pembelian BBM Rp 20 ribu, lahan yang tersiram hanya seribu meter persegi. Sementara untuk luas yang sama, penggunaan listrik hanya butuh Rp 2 ribu. Sehingga lebih hemat Rp 18 ribu. “Sekarang efisiensinya cukup tinggi untuk biaya siram semenjak pakai listrik," jelasnya.
Dalam satu musim tanam, biaya siram menggunakan BBM bisa mencapai Rp 600 ribu untuk seribu meter persegi. Sementara dengan listrik hanya sekitar Rp 60 ribu. Modernisasi juga berkembang pesat dengan penggunaan CCTV, hingga penyiraman otomatis menggunakan Google Assistant. Teknologi ini membantu pemerataan penyiraman dan meningkatkan produktivitas petani, termasuk petani milenial. “Itu yang kemarin menjadi fungsi kita untuk meningkatkan produktivitas petani,” kata Elyas.
Baca Juga: Siklon Senyar dan Koto Kepung DIJ. Berdampak Anomali Cuaca, Masyarakat Diminta Waspada
Upaya ini turut didukung dengan kucuran dana desa Rp 136 juta pada 2022. Kemudian Rp 30 juta pada 2023. Seluruh anggaran tersebut digunakan untuk elektrifikasi pertanian. Kemudian petani yang turut swadaya Rp 2,5 juta untuk proses pemasangan kWh meter. “Hampir 100 persen, termasuk lahan pasir sudah terpasang,” ujarnya.
Sebagian kecil petani yang belum memasang umumnya karena takut listrik atau terbatas modal.
Sementara itu, salah satu petani di Kalurahan Parangtritis Warjono mengakui manfaat besar dari sistem listrik untuk pertanian. Baginya, penggunaan listrik jauh lebih hemat dibanding diesel yang memerlukan bahan bakar yang mahal. “Lebih enak pakai listrik, ngirit biaya,” ujar Warjono. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita