BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mulai mengubah strategi penanganan Tuberkulosis (TBC) dengan beralih dari sistem pasif dispensing menjadi aktif dispensing. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat upaya eliminasi TBC secara nasional pada 2030.
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widyantara menjelaskan, selama ini pencarian kasus TBC bersifat pasif. Masyarakat yang memiliki gejala TBC datang berobat, kemudian dilakukan pengecekan untuk memastikan ada tidaknya infeksi TBC.
“Jadi dulu perkembangannya tidak terlalu masif,” ujarnya saat ditemui di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul Selasa (25/11).
Kini pendekatan tersebut diganti dengan aktif dispensing. Caranya, Dinkes Bantul turun langsung ke masyarakat untuk melakukan skrining. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan di fasilitas layanan, tetapi juga menggunakan mobil khusus untuk memeriksa pasien TBC yang dibawa ke lokasi.
Baca Juga: Mentan Amran : Beras Ilegal Ditindak, sebelum Bersandar di Batam
“Jadi dengan alat rontgen dibawa ke lokasi, bisa mempercepat penemuan TBC dengan jemput bola,” sebutnya.
Mobil tersebut juga telah dilapisi timbal sehingga aman dari paparan radiasi. Upaya skrining aktif dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari event kesehatan, bakti sosial, hingga kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
“Memang belum rutin setiap bulan, tapi ke depan kami upayakan bisa rutin,” katanya.
Baca Juga: Gadis di Bawah Umur Asal Bergas Dicabuli Oleh Trainer Gym, Pelaku Berhasil Ditangkap di Ambarawa.
Dinkes Bantul juga menggandeng perusahaan-perusahaan besar agar upaya pencarian kasus bisa lebih masif.
Tahun 2025, target penemuan kasus TBC ditetapkan sebanyak 2.151 orang.
Menurutnya, gejala TBC sering tampak tidak terlalu parah, seperti batuk berkepanjangan atau penurunan berat badan. Namun jika tidak rutin berobat, pasien berisiko dapat mengalami resistensi obat.
“Kalau sudah resisten lebih sulit diobati, harus mengakses tenaga kesehatan lebih sering. Dampaknya juga bisa menyebar, tidak hanya di paru-paru,” jelasnya.
TBC dapat menyerang anak maupun dewasa. Meski demikian, skrining pada orang dewasa menjadi fokus utama Dinkes Bantul, karena kelompok ini lebih berpotensi menularkan penyakit TBC.
“Kita berharap bisa lebih banyak menemukan kasus pada orang dewasa agar penularannya bisa ditekan,” tuturnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita