BANTUL - Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul masih melakukan pengkajian terkait penanganan ambrolnya jalan utama di Padukuhan Wunut, Sriharjo, Imogiri. Amblesnya jalan di tepi aliran Sungai Oyo itu membuat akses warga terputus.
Kepala DPUPKP Bantul Jimmy Alran Manumpak Simbolon mengaku, saat ini ada dua opsi penanganan yang akan dilakukan. Pertama, langkah jangka pendek agar mobilitas warga bisa segera pulih. Atau opsi kedua berupa penanganan permanen. Namun membutuhkan penghitungan teknis dan pertimbangan matang.
“Kemarin Pak Wabup sudah bicara dengan Pak Panewu, geser jalan dekat bukit. Satunya lagi membuat jembatan,” jelasnya Senin (24/11).
DPUPKP Bantul menargetkan keputusan awal dua opsi tersebut akan keluar dalam waktu dekat. “Minggu depan kita sudah mengambil gambaran langkah mana yang mau kita ambil dari dua pilihan itu,” tegasnya.
Baca Juga: Pesawat Tempur Rafale Gelombang Pertama Dijadwalkan Tiba di Indonesia Awal Tahun
Terkait jalur alternatif, dinasnya masih berkoordinasi dengan pihak kalurahan dan warga pemilik lahan. Arah relokasi jalan baru disebut tak jauh dari jalur lama. Karena area bukit berada kurang dari 50 meter dari lokasi ambrol. “Semakin dekat bukit kan semakin aman. Paling kita usahakan jalan akses sementara dalam sebulan jadi,” katanya.
Sementara untuk opsi jembatan, kajian komprehensif baru akan dianggarkan tahun depan. “Anggaran kajiannya mungkin kita anggarkan di tahun depan. Kajian kita kumpulkan dari berbagai bidang termasuk balai sungai (BBWSSO, Red) dan BPKPAD. Nanti rilisnya harus dengan tenaga ahli,” urainya.
Jika hasil kajian menunjukkan kebutuhan penanganan besar, DPUPKP Bantul membuka peluang mengajukan dukungan anggaran ke pemerintah pusat melalui APBN.
Jimmy menjelaskan, berbagai pertimbangan teknis membuat area Padukuhan Wunut membutuhkan penanganan berbeda dari lokasi kerusakan jalan biasa. Selain berada persis di tepi sungai, kawasan itu juga memiliki mata air di bawah permukaan yang memperbesar kerentanan tanah.
“Di sana itu sumber airnya selain dari sungai, juga ada air di bawah. Itu harus butuh treatment juga,” ungkapnya.
Selain merumuskan jalur alternatif, DPUPKP Bantul juga menyiapkan langkah untuk mengurangi hantaman air sungai yang terus menerus mengenai tebing jalan.
“Mungkin kita akan buat tumpukan pasir. Sungainya kan tetap menghantam ke sini. Kalau enggak makin meluas,” ucapnya.
Upaya memperkokoh tebing dengan metode struktur beton tertentu dinilai tidak memungkinkan. Karena kondisi tanah yang sangat dalam. “Titik kedalamannya sampai menemui tanah keras itu di atas 12 meter,” katanya.
Sementara itu, warga Padukuhan Wunut Niken Susanti, 28, menyebut, harus melewati jalan ambrol saat akan ke Imogiri. Sebab jalur ini yang paling cepat. “Ada jalan lain tapi haru muter. Kalau di sini lurus saja," tuturnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita