BANTUL - Serangan hama keong kembali dikeluhkan petani di Padukuhan Sewon, Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon.
Hama tersebut membuat pertumbuhan padi tidak seragam dan menyebabkan panen tidak bisa dilakukan serentak.
Petani setempat, Adam Lil Mula, 51, mengatakan keong menjadi gangguan paling dominan pada masa tanam kali ini.
Setelah padi ditanam, tanaman muda sering habis dimakan keong hanya dalam waktu sekitar sepekan.
“Yang paling banyak itu keong. Kemarin ini dapat banyak keongnya. Kalau padi dimakan, habis nanem paling seminggu, nanti keong pada makan tanaman," keluhnya saat ditemui di lahan sawahnya Minggu (9/11/2025).
Dia menjelaskan, serangan keong menyebabkan banyak tanaman putus dan mati.
Bahkan sebagian petak sawah di samping lahannya benar-benar habis dimakan hama tersebut.
Untuk menyiasatinya, ia melakukan sulam tanam dengan menanam ulang benih yang masih tersisa di bagian yang rusak.
Baca Juga: DLH Kulon Progo Pastikan SPPG Dilengkapi IPAL, Agar Tidak Mencemari Lingkungan setelah Beroperasi
“Caranya benih saya sisain. Kalau ada yang dimakan keong bisa sulamin lagi, jadi nanti tumbuh lagi. Isinya yang mati ditanam lagi. Tapi tetap rugi,” jelasnya.
Akibatnya, waktu panen menjadi tidak serempak. Tanaman hasil sulam tumbuh lebih lambat dibanding tanaman lain.
“Hasilnya kalau panen nggak bareng. Yang sulamin pasti nyusul,” lanjutnya.
Adam masih mengandalkan obat pembasmi keong untuk mengendalikan hama tersebut.
Obat diaplikasikan bersamaan saat ia membersihkan rumput di area sawah. Namun, efektivitasnya dinilai belum optimal.
“Keong ini hampir selalu ada tiap musim tanam. Dikasih obat pun tetap aja masih muncul,” ujarnya.
Pada masa tanam sekarang, diperkirakan ada sekitar 50 rumpun padi di lahannya yang perlu disulam ulang, dari luas lahan sekitar 60 meter persegi.
Kendati demikian, kondisi saluran irigasi saat ini tidak bermasalah karena baru selesai diperbaiki. “Dinas sudah membetulkan,” ucapnya.
Pun, serangan tikus yang sebelumnya sempat marak sudah tidak tampak lagi.
Menurutnya, menanam padi membutuhkan perhatian intensif agar tanaman tidak mudah terserang hama.
“Gampang-gampang susah nanem padi kalau nggak sering ditengok,” ujarnya.
Meski kerugian secara perhitungan hasil tidak terlalu besar, namun banyaknya tanaman yang mati membuat ia harus mengeluarkan tenaga dan biaya ekstra.
“Kalau dihitung rugi untungnya sih nggak seberapa, cuma tanamannya banyak yang mati,” tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita