BANTUL - Bantul "pecah telur" soal keracunan program makan bergizi gratis (MBG). Kabupaten dengan slogan Projotamansari itu melengkapi tiga kabupaten dan satu kota di DIJ di mana terjadi kasus keracunan MBG di sekolah sebelumnya.
Kasus perdana keracunan MBG di Bantul ini menimpa delapan siswa SD Negeri Kembangan di Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro. Sebenarnya kasus ini terjadi pada Kamis (16/10) lalu, tapi baru terendus oleh wartawan Kamis (30/10).
Keracunan ini diduga terjadi karena penyajian makanan lebih dari enam jam. "Memang ditemukan bakteri, dimungkinkan karena jeda waktu penyajian. Seharusnya empat jam, tapi itu lebih dari enam jam," ungkap Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bantul Hermawan Setiaji kemarin (30/1).
Ditemui setelah acara pelantikan dan pengambilan sumpah janji jabatan pimpinan tinggi pratama dan jabatan fungsional di Pemkab Bantul, Hermawan menyebut para siswa yang mengonsumsi MBG merasakan pusing dan mual. Para siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Bambanglipuro dan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Pihaknya juga mengambil sampel makanan untuk keperluan surveilans. "Kalau sekarang kan sudah sehat, nggak ada yang dirawat di rumah sakit," katanya.
Hermawan mengakui SDN Kembangan mendapatkan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mulyodadi. Setelah kejadian keracunan itu, sampai saat ini SPPG tersebut belum beroperasi kembali.
"Saya konfirmasi dengan koordinatornya, nunggu Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Nanti kalau sudah keluar, baru ada permohonan untuk pengoperasionalannya," tambah Hermawan. (cin/laz)