BANTUL - Sebagian warga Indonesia belum mampu secara ekonomi membiayai sekolah anak mereka. Karena itu, beasiswa pendidikan sangat dibutuhkan masyarakat guna menekan angka putus sekolah.
“Beasiswa sangat penting karena negara belum bisa menjamin 100 persen pembiayaan pendidikan,” ujar Anggota Komisi D DPRD DIY Arni Tyas Palupi saat Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah di SMA Pangudiluhur Sedayu, Bantul, Selasa (14/10).
Beasiswa, lanjut Arni, dibutuhkan demi menuntaskan pendidikan menengah 12 tahun. Selaras dengan itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY mempunyai tiga program beasiswa. Kartu Cerdas (Karcer), Jaminan Kelangsungan Pendidikan (JKP), dan Retrieval khusus untuk siswa SMA/SMK sederajat.
"Pentingnya kita menyosialisasikan beasiswa ini agar program tersebut bisa sampai ke warga yang benar-benar membutuhkan," paparnya.
Dengan adanya tiga program beasiswa itu, Arni ingin masyarakat DIY dapat menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu dapat meningkatkan kualitas hidup dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Wasidi menjelaskan, beasiswa dapat diperoleh oleh siswa SMA/SMK sederajat. Pertama, beasiswa Karcer adalah beasiswa untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Nilainya Rp 1,5 juta per siswa. Kedua, JKP adalah beasiswa untuk siswa yang masih mempunyai kekurangan biaya administrasi sekolah. Dari keluarga tidak mampu.
"Kalau siswa punya kekurangan biaya, misalnya Rp 7 juta, kami hanya bisa membantu Rp 4 juta karena beasiswa ini maksimal bantuannya Rp 4 juta per siswa," jelasnya.
Ketiga, beasiswa Retrieval. Beasiswa untuk siswa lulusan SMP/sederajat yang tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Atau siswa putus sekolah di jenjang SMA/SMK. Besaran beasiswanya sebanyak Rp 3 juta per siswa. “Bagi yang tidak sekolah, ada beasiswa agar bisa sekolah. Atau putus sekolah tak punya biaya, bisa pakai beasiswa Retrieval ini," kata Wasidi.
Ketiga program beasiswa tersebut sangat penting agar di DIY tidak ada siswa yang mengalami putus sekolah. Sosialisasi itu, sambung Wasidi, dilakukan agar masyarakat semakin banyak yang mengetahui beasiswa tersebut.
Namun demikian, dia mengingatkan, pengajuan beasiswa bisa batal jika siswa sudah tidak bersekolah di DIY. Bukan lagi warga ber-KTP DIY. Sumber anggaran beasiswa dari dana keistimewaan (danais) “Syaratnya harus warga DIY," tuturnya.
Selain itu, siswa yang terlibat tindak kriminal juga bisa batal mendapatkan beasiswa. Misalnya, terlibat pencurian, klitih, dan tindak kriminal lainnya. Tujuan beasiswa itu agar tidak ada anak yang tidak sekolah. Semua anak harus sekolah. Program tersebut diharapkan dapat membantu mereka yang terkendala biaya. “Sehingga anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” harap Wasidi. (cin/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita