BANTUL – Pengurus Desa Wisata Krebet, Pajangan, Bantul, optimistis kerajinan batik kayu tidak akan punah. Meski tren wisata dan pasar terus berubah, Desa Wisata Krebet terus berinovasi agar tetap relevan dan menarik bagi wisatawan.
Wakil Ketua Desa Wisata Krebet Riyadi Zibril mengatakan, kunci kelestarian batik kayu ada pada kreativitas dan inovasi produk.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah mengembangkan produk batik kayu multifungsi. Tidak hanya sekadar pajangan, kini batik kayu diolah menjadi barang yang bisa digunakan sehari-hari seperti piring, mangkuk, atau wadah serbaguna.
“Kalau produk multifungsi lebih aman karena bisa dipakai. Jadi tidak hanya dilihat, tapi juga bermanfaat,” katanya saat ditemui di Sekretariat Desa Wisata Krebet Minggu (12/10).
Selain itu, pengrajin juga mencoba menyasar pasar suvenir pernikahan, meski hingga kini masih mencari bentuk dan harga yang tepat.
“Kebutuhan suvenir itu besar, tapi harganya harus murah, sementara batik kayu biayanya tinggi. Jadi menyesuaikan harga yang pas itu tantangan,” ujarnya.
Lanjutnya, proses belajar membatik kayu sebenarnya pun tidak sulit. Dalam waktu satu hari, biasanya seseorang yang belajar membatik langsung bisa mengukir batik di atas kayu. Sehingga orang awam pun bisa membuat batik kayu asal memiliki keinginan belajar.
Baca Juga: Musim Hujan di Yogyakarta Datang Lebih Awal, BMKG: Waspada Cuaca Esktrem
Selain itu, kata dia, menjadi pengrajin batik kayu mempunyai waktu kerja yang fleksibel. Maka dari itu, pekerjaan ini sangat cocok untuk ibu rumah tangga di Krebet. Mereka dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk membatik di rumah.
“Sambil menunggu anak sekolah, mereka bisa membatik. Pekerjaan ini fleksibel, bisa dilakukan di mana saja,” tambahnya.
Dari hal tersebut ia semakin yakin, suatu saat nanti Desa Wisata Krebet tetap akan lestari dan generasi selanjutnya akan tetap melanjutkan keberlangsungan Desa Wisata ini.
Untuk menarik minat generasi muda, mereka juga dilibatkan dalam kegiatan multimedia dan promosi digital Desa Wisata Krebet. Para pemuda aktif memperbarui konten kegiatan Desa Wisata Krebet di media sosial, sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan.
"Mereka kan sedikit-sedikit jadi tahu apa itu Desa Wisata Krebet dengan mengikuti berbagai kegiatan di sini dan membuat berbagai konten," katanya.
Selain itu, Desa Wisata Krebet juga terus mengikuti berbagai ajang penghargaan tingkat provinsi dan nasional untuk menarik banyak wisatawan.
"Kami ikut ajang Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2024 dan berhasil juara satu. Dari situ kunjungan wisatawan meningkat pesat,” ujarnya.
Selain wisata batik, Krebet juga menawarkan paket wisata edukasi seperti belajar membatik kayu, kesenian tari dan karawitan, wisata menggunakan jip, serta jelajah desa menggunakan kereta odong-odong.
Dengan berbagai upaya tersebut, pihaknya berharap Desa Wisata Krebet akan terus lestari. ke depannya Desa Wisata Krebet akan tetap berinovasi mengikuti perkembangan zaman.
Riyadi berharap keberadaan desa wisata ini tidak hanya menjaga kelestarian batik kayu. Tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Harapannya, wisatawan tidak hanya membeli produk, tapi juga belajar membatik di sini. Semakin lama mereka tinggal, semakin besar perputaran ekonomi di masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Sub Koordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi mengatakan, upaya dinasnya untuk mengembangkan desa wisata dengan berbagai pelatihan. Ditujukan kepada unit pengelola desa atau destinasi wisata dan dengan melakukan promosi lewat berbagai cara.
Selain itu, Dispar Bantul juga bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk mengembangkan desa wisata di Bantul. "Termasuk sumber daya manusianya," katanya.
Ia berharap pengunjung tetap datang ke desa wisata, sehingga pengelola dapat terinspirasi untuk mengembangkan desa wisata mereka.
"Semoga pengunjung tetap datang ke desa wisata di bantul, pelaku ekraf seperti kerajinan dan kuliner juga tetap terpacu untuk berkarya," tutupnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita