BANTUL - Sepasang suami istri (pasutri) yang hanya lulusan SMA bertekad kuat menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana. Untuk mewujudkan tekad itu, mereka membangun usaha sate yang diberi nama Sate Petir Pak Nano. Nama itu lahir dari sejarah unik yang masih diingat hingga kini.
Nama Sate Petir Pak Nano sudah lekat di telinga pecinta kuliner di seputaran Jogja dan Bantul. Di balik kepopulerannya, tersimpan kisah panjang perjuangan pasangan suami istri Sumarni, 75, dan Sutyarno, 78.
Selama 41 tahun mereka bertahan berjualan sate tanpa henti, tanpa karyawan, dengan hanya dibantu anak-anaknya. Perjuangan itu berbuah manis. Tiga anaknya bisa kuliah, meski jarak usia yang berdekatan membuat biaya pendidikan cukup berat.
Setiap hari mereka harus menabung dari hasil jualan sate. Tabungan sederhana kala itu dimasukkan ke bambu yang dilubangi kecil. "Pokoknya tiap hari harus bisa menabung. Dulu buat bayar kuliah, bensin, sama uang saku anak-anak," kenangnya saat ditemui di warung satenya beberapa waktu lalu (14/9).
Meski latar belakang keduanya hanya lulusan SMA dan bukan berasal dari keluarga berada, Sumarni atau yang lebih akrab dipanggil Marni dengan suaminya bertekad anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi. "Saya pengin kuliah tapi uangnya nggak ada. Alhamdulillah ketiga anak saya bisa kuliah dengan berjualan sate ini," lanjutnya.
Meski sekarang semua anaknya sudah bekerja dan memiliki keluarga sendiri, Sumarni dan suaminya memilih tetap berjualan sate, karena tidak ingin merepotkan Anak-anaknya. "Pokoknya saya sama bapak (suaminya, Red) bisa makan tanpa minta sama anak-anak," jelasnya.
Selain itu, ia juga menyisihkan sedikit untuk cucu-cucu mereka. Kesederhanaan itu menjadi prinsip hidup mereka. Tak pernah ada beban untuk meminta bantuan anak-anak.
Marni mengaku, kebahagiaan bersama suaminya kini bukan lagi soal materi. Hal-hal kecil seperti bisa jajan atau sekadar jalan-jalan sudah cukup. "Sekarang menikmati hidup itu saja,” ucapnya, sambil tersenyum.
Sementara itu, warisan keranjang sate berusia 100 tahun peninggalan ayah suaminya masih digunakan hingga kini. Dalam sehari kini mengolah sekitar 2 kg daging berjualan dari pukul 12 siang hingga 18.00. Pendapatan rata-rata antara Rp 300 ribu sampai Rp 450 ribu kotor, sekitar 10 sampai 15 porsi.
Dari jumlah itu sebagian digunakan membeli bahan, sebagian lagi ditabung. Berbeda pada saat ia masih menyekolahkan anak-anaknya, mereka berjualan sampai larut malam dan porsi yang dijualnya pun lebih banyak, bisa sampai berkali-kali lipat.
"Bapak (suaminya, Red) itu punya prinsip, nggak mau meminta tapi kalau memberi mau. Kalau anak-anak memberi diterima, tapi minta nggak pernah," kata Marni.
Baca Juga: Disbud Bantul Ajukan Dua Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan
Bagi Marni, kunci bertahan 41 tahun berjualan adalah sabar dan menghormati pembeli. "Sama pembeli kita harus menghormati. Biar orangnya seperti apa pun dan masaknya juga harus enak, harganya mengikuti pasaran," pesannya.
Kendati demikian pada awalnya warung sate yang sekarang berada di Jalan Jogja Ring Road Selatan, Menayu Kidul, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul hanya dikenal sebagai sate Pak Nano. Namun suatu hari, seorang wartawan dari Semarang mampir makan sate di warungnya yang dulu masih berada di Kota Jogja.
Setelah membayar, ia mengeluhkan sambil marah-marah sate yang dibuatnya mengapa bisa laris. Keesokan harinya, wartawan itu kembali datang dan memesan menu yang sama. Marni masih ingat betul wajahnya.
Ternyata alasan kedatangannya karena rasa sate yang pedas luar biasa, hingga ia menggambarkannya seperti tersambar petir. Dari kejadian itulah nama Sate Petir kemudian melekat dan dikenal sampai sekarang.
Mereka pun punya cara unik melayani pelanggan soal level pedas. Marni mengatakan kode PAUD berarti tanpa cabai, TK satu cabai, SD 2 sampai 3 cabai, SMP 4 sampai 5 cabai, SMA 6 sampai 7 cabai, mahasiswa 8 sampai 9 cabai, dan profesor lebih dari 10 cabai. Ada yang bahkan pernah memesan hingga 50 cabai.
Kini, meski usia kian senja, keduanya masih setia berjualan. "Sekarang sudah nggak ngoyo. Anak-anak sudah menikah, sudah hidup sendiri. Kami tinggal menikmati hidup," tambah Bu Marni. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun