Hama Tikus Masih Jadi Masalah Utama Pertanian Bantul, Gapoktan Masih Manfaatkan Burung Hantu
Cintia Yuliani• Jumat, 5 September 2025 | 22:30 WIB
Petani kacang tanah di Kabupaten Bantul sedang memanggul hasil panennya
BANTUL – Serangan hama tikus masih menjadi momok utama petani di Kabupaten Bantul. Hampir di semua wilayah, masalah ini muncul dan berdampak pada berbagai tanaman padi, jagung, kacang tanah, dan sejenisnya yang baru tumbuh.
Permasalahan serupa juga terjadi di Kalurahan Panggungharjo, Sewon. Lurah Panggungharjo Ari Suharyanto mengakui, hama tikus menjadi kendala terbesar petani di wilayahnya.
“Selain tikus, ada juga ulat dan wereng. Sebelum panen, burung juga menjadi permasalahan sehingga petani harus menunggui lahannya,” ungkapnya saat dihubungi Jumat (5/9).
Untuk penanganan, kalurahan bekerja sama dengan penyuluh pertanian. Bentuknya berupa pertemuan rutin dan pelatihan dengan gabungan kelompok tani (gapoktan). “Bantuan juga ada melalui gapoktan sesuai kebutuhan. Bisa berupa bibit dan pestisida, ada juga pelatihan,” katanya.
Selain itu ada pula pelatihan pembuatan pupuk organik, pelatihan manajemen pertanian, dan lain-lain.
Sementara itu, Staf Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Fahmi Mega membenarkan memang permasalahan pertanian di Bantul kebanyakan karena hama tikus
“Kebanyakan hampir di seluruh Bantul, bukan hanya Jetis atau Kapanewon Bantul saja,” ujarnya saat ditemui di kantor DKPP Bantul Kamis (4/9).
Menurutnya, perubahan iklim serta berkurangnya jumlah predator alami menjadi salah satu pemicu maraknya hama tikus. “Kalau ada ular di sawah, sering langsung dibunuh petani. Padahal ular itu predator alami tikus, harusnya dijaga sebagai teman petani,” katanya.
Meski demikian, penggunaan burung hantu dinilai lebih aman. Seekor burung hantu mampu memangsa hingga 10 ekor tikus dalam semalam.
“Namun burung hantu perlu tenggeran. Rumah burung hantu memang banyak, tapi kalau tidak ada tenggeran, burung kesulitan memangsa,” jelasnya.
Saat ini, Bantul memiliki sekitar 79 gapoktan. Hampir semua sudah memanfaatkan burung hantu untuk pengendalian hama tikus, meski belum merata hingga kelompok tani kecil.
“Kalau burung hantu dipasang lama, mereka bisa berkembang biak sehingga jumlahnya bertambah. Tapi tetap harus ada dukungan berupa tenggeran agar pengendalian hama lebih optimal,” tutupnya. (cin)