BANTUL – Bahan baku pembuatan sangkar burung dari rotan yang kian mahal membuat sebagian pengrajin sangkar burung memilih menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan.
Salah satunya dirasakan Danang Sulisno, 40, warga Padukuhan Brongkol, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu yang sudah 10 tahun menekuni kerajinan sangkar burung jenis perkutut dan perkuku. Dua jenis tetapi dengan model yang bermacam-macam.
“Ini cuma buat sampingan saja, kalau ada waktu senggang baru kita buat,” ungkap Danang saat ditemui di rumahnya, Rabu (27/8/2025).
Dalam dua bulan, ia rata-rata bisa memproduksi 20 sangkar. Dengan kapasitas produksi terbatas, pendapatan yang diperoleh pun tidak seberapa, hanya sekitar Rp 750 ribu per bulan.
Sangkar hasil kerajinannya dipasarkan di pasar tradisional seperti Pasar Pasty yang berada di Gedongkiwo, Jogjakarta maupun diambil langsung oleh pengepul. Namun karena skala produksinya kecil, pembeli pun tidak rutin datang.
“Peminatnya masih ada. Tapi bahan bakunya mahal, jadi untungnya tipis,” ucapnya.
Satu sangkar ia hanya memperoleh keuntung sekitar 40 persen per sangkar, sedangkan 60 persen habis untuk bahan pembuatan.
Menurut Danang, pembuatan sangkar membutuhkan rotan, bambu, hingga papan kayu. Prosesnya cukup panjang, mulai dari pengikalan besi, merajut rotan hingga menyusun kolom sesuai kebutuhan. Namun kesulitan terbesar justru terletak pada bahan baku yang harganya semakin melambung.
“Semua bahan dasar naik setelah corona.” keluhnya.
Menurutnya sebelum corona harganya stabil, pendapatannya bahkan bisa dibilang lumayan dan bisa menghidupi kehidupannya.
Ia menambahkan, bahan baku kebanyakan diperoleh dari Solo melalui pengepul. Karena hanya butuh sedikit, Danang tidak bisa membeli langsung ke produsen pertama. Ia membeli bahan baku dari pihak ketiga, maka dari itu, harga yang didapatkan lebih mahal.
“Tapi mau bagaimana lagi, karena kebutuhan sedikit,” katanya.
Selain harga bahan yang naik, persaingan antarpengrajin juga makin ketat. Jumlah pembuat sangkar semakin banyak, sehingga harga jual pun tidak setinggi dulu.
“Dulu belum banyak yang buat, jadi hasilnya lumayan. Sekarang banyak yang buat, harga jadi turun,” tuturnya.
Satu sangkar burung dibandrol dengan harga Rp 90 ribu sampai Rp 140 ribu.
Kondisi ini membuat Danang memilih beralih menjadi buruh di kota sebagai pekerjaan utama. Sementara pembuatan sangkar hanya dijalani jika ada waktu luang. Ia pun berharap harga bahan baku bisa kembali turun agar pengrajin sangkar dapat kembali bergairah.
“Sekarang semakin sulit, semoga ke depan lebih baik,” tutur Danang.
Dalam kesehariannya, Danang masih mendapat bantuan dari sang ayah, Sumadi Priyono, 68, yang turut membantunya merajut rotan.
Ia pun mengaku kesulitan dalam pembuatan sangkar burung tidak sebanding dengan upah yang diterimanya. “Saya belajar buat sangkar burung dari kakak saya,” kata dia. (cin)
Editor : Iwa Ikhwanudin