BANTUL – Kekhawatiran terhadap lunturnya budaya Jawa di kalangan generasi muda membuat SMPN 4 Banguntapan memikirkan memikirkan solusi agar kebudayaan yang ada tetap terjaga.
Sekolah ini resmi mencanangkan diri sebagai sekolah budaya dengan memasukkan unsur budaya Jawa ke dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Salah satu upayanya adalah mengganti bel sekolah. Jika biasanya bel berbunyi musik modern, di sekolah ini bel dikumandangkan dengan iringan gamelan lengkap dengan narasi berbahasa Jawa.
Bahkan suara bel itu merupakan karya asli siswa dan guru SMPN 4 Banguntapan yang sebelumnya meraih juara 2 tingkat Kabupaten dan juara 3 tingkat provinsi.
“Di bel itu tidak hanya sekadar informasi jam masuk atau istirahat, tapi ada kata-kata bijak bahasa Jawa,” terang guru bahasa Jawa SMPN 4 Banguntapan Sarjiono saat ditemui Rabu (21/8).
Tidak berhenti di situ, seluruh sudut sekolah juga dipenuhi nuansa budaya Jawa. Tembok hingga ruang kelas dihiasi lukisan budaya dan aksara Jawa yang dilukis oleh siswa siswi SMP N 4 Banguntapan.
Guru dan siswa pun turut menggelar kirab gunungan hasil bumi saat perayaan ulang tahun sekolah, sebagai cara mengajarkan nilai-nilai budaya.
“Kami tidak ingin budaya ini hilang. Harapannya warga SMPN 4 Banguntapan dan lulusannya kelak menjadi manusia yang andap asor, sopan santun, ber-akhlakul karimah, dan memiliki jati diri sebagai wong Jawa,” jelas kepala sekolah SMPN 4 Banguntapan Sugiparyanto.
Program ini mendapat respons positif baik dari guru maupun siswa. Antusiasme tinggi ditunjukkan melalui berbagai prestasi seni budaya yang diraih. Mulai dari lomba karawitan, bahasa Jawa, hingga kegiatan ekstrakurikuler lain yang kental dengan unsur budaya.
Langkah SMPN 4 Banguntapan juga sejalan dengan program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang baru-baru ini dicanangkan Pemprov DIY. Bahkan sekolah ini sudah memulai penerapannya sejak setahun lalu melalui bel berbahasa Jawa, sebelum program tersebut ramai diperbincangkan.
"Sekolah ini satu-satunya yang ada di DIY, yang bel-nya berbahasa Jawa dengan musik gamelan," tuturnya.
Baca Juga: Berprestasi dalam Bidang Seni Budaya, Pemprov DIY Beri Penghargaan pada 10 Anak dan 3 Sanggar
Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bantul Titik Sunarti menyebut, hingga kini sudah ada 20 sekolah budaya di Bantul dari tingkat SD hingga SMA yang ditetapkan oleh Disdikpora DIY.
"Setiap sekolah harapannya mempunyai program sebagai sekolah berbasis budaya," jelasnya.
Menurutnya di Bantul sudah banyak sekolah yang memiliki program unggulan berbasis kebudayaan, tetapi tidak ditetapkan melalui SK hanya memiliki program unggulan sebagai sekolah berbasis budaya. (cin/zam)