BANTUL - Para petani di Tanjung Karang, Patalan, Jetis, Bantul, mengeluhkan serangan hama tikus. Keberadaan hewan pengerat ini merusak tanaman tanaman kedelai, kacang tanah, hingga jagung. Mengakibatkan hasil panen turun hingga 62,5 persen.
Kondisi tersebut dialami oleh Gito Prayitno, 68. Petani kedelai dengan lahan 1.000 meter persegi ini biasanya mampu memanen hingga 16 karung. Namun karena serangan hama tikus, hasil panennya hanya mencapai 10 karung.
“Kedelai aja sebagian dimakan tikus, apalagi jagung,” ucapnya saat ditemui di lahan pertaniannya Selasa (19/8).
Keluhan serupa disampaikan Sarjiman, 70. Petani kacang tanah di lahan seluas 1.000 meter persegi hanya mendapatkan panen lima karung. “Kalau nggak diserang tikus sekitar 12 karung. Jelas rugi,” lontarnya.
Sementara Slamet, 62, petani jagung dengan lahan 800 meter persegi juga mengalami hal yang sama. “Biasanya dapat enam kuintal sekitar 10 karung, ini cuma dapat dua kuintal atau enam karung," keluhnya.
Slamet mengaku, hingga kini dia dan petani lain hanya bisa membiarkan serangan hama tikus berlangsung. Upaya sederhana dengan memberi obat pada singkong sudah dilakukan. Namun tidak efektif karena tikus tetap berkeliaran. “Harapannya ada bantuan obat untuk membasmi hama tikus, soalnya serangan tikus baru terjadi sekitar satu tahun terakhir," tuturnya.
Staf Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Fahmi Mega menjelaskan, pemerintah sebenarnya memiliki sejumlah teknologi pengendalian hama tikus. “Kita menggunakan burung hantu secara alami, jadi nanti DKPP membuat rumah burung hantu di sawah,” jelasnya.
Selain itu, DKPP juga mengupayakan metode emposan dengan menggunakan mercon asap. Yang akan dimasukkan ke lubang tikus lalu ditutup agar hewan pengerat itu mati di dalamnya.
Menurut Fahmi, DKPP Bantul telah menyiapkan mekanisme gerakan pengendalian hama tikus. Gerakan ini bisa diajukan melalui program kerja pengawasan tahunan (PKPT), pengamat hama, maupun kelompok tani yang terdampak. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita