Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

UPPO Tani Mulyo Ajak Petani di Bantul Kurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Cintia Yuliani • Minggu, 3 Agustus 2025 | 15:35 WIB

 

Marketing UPPO Tani Mulyo Teguh Purnomo sedang mengecek fermentasi pupuk dari kotoran sapi Jumat (1/8)     Petani Srimartani dan Srimulyo Olah Limbah Jadi Berkah
Marketing UPPO Tani Mulyo Teguh Purnomo sedang mengecek fermentasi pupuk dari kotoran sapi Jumat (1/8)   Petani Srimartani dan Srimulyo Olah Limbah Jadi Berkah

 

BANTUL - Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kerusakan struktur tanah akibat pemakaian pupuk kimia secara berlebihan, Unit Pengelolaan Pupuk Organik (UPPO) yang berdiri di bawah naungan Koperasi GP3A Tani Mulyo di Jalan Kwasen, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, tampil sebagai solusi.

Lembaga yang mulai beroperasi sejak 2018 ini tak hanya menjawab kebutuhan pupuk petani, tetapi juga menjadi contoh keberhasilan kelembagaan berbasis gotong royong. Ketua Koperasi GP3A Tani Mulyo Suhardiyana, mengungkapkan pada awalnya UPPO didirikan untuk meringankan beban para anggota kelompok tani dalam pengadaan pupuk.

Tak disangka, usaha yang semula hanya untuk kebutuhan internal antar anggota, berkembang luas hingga menarik pelanggan dari luar daerah seperti Bantul dan Wonosari. “Setelah pupuk yang kami produksi laku, pelanggan pun bertambah,” jelasnya saat ditemui Jumat (1/8).

Dalam satu kali produksi, UPPO mampu menghasilkan sekitar dua ton pupuk. Siklus produksi dilakukan dua bulan sekali, tergantung pada kebutuhan para petani.  UPPO Srimartani berawal dari program bantuan Pemkab Bantul.

Bantuan tersebut berupa 10 ekor sapi, kandang, dan bangunan hanggar. “Program seperti ini memang ada di Bantul, tapi banyak yang tidak berjalan. Alhamdulillah kami bisa kembangkan sampai sekarang,” tutur Suhardiyana.

Dari modal awal senilai sekitar Rp 200 juta, UPPO berkembang menjadi lembaga yang produktif dan berkesinambungan. Keberhasilan ini tak lepas dari manajemen terbuka dan penguatan kelembagaan. Kunci keberlanjutan kata dia, adalah tata kelola. Tidak bisa asal jalan.

"Kami jalankan organisasi dengan open management. Setiap pertemuan rutin, kami laporkan keuangan agar anggota tahu kondisi kas dan kekayaan kelompok,” terangnya.

Saat ini UPPO memiliki 32 anggota aktif yang berasal dari dua kalurahan, yakni Srimartani dan Srimulyo.  Ternak sapi yang digunakan semuanya betina, karena orientasi utama adalah produksi kotoran untuk pupuk, bukan daging. “Kalau jantan fokusnya ke sapi, bukan pupuk. Betina lebih cocok, karena bisa terus beranak,” katanya.

Sapi-sapi tersebut dikelola oleh anggota dengan sistem bagi hasil. Anak sapi hasil kelahiran menjadi aset yang dikelola. Jika anakannya dijual, hasilnya masuk kas sebagai modal usaha kelompok. Sistem pelaporan dan pertanggungjawaban dilakukan di akhir tahun. Laba dari penjualan pupuk dibagi kepada anggota.

Baca Juga: Out dari PSS Sleman, Hokky Caraka Merapat ke Persita Tangerang, Pieter Huistra Berharap Dapat Menit Bermain Lebih Baik

“Kami pernah membagikan hingga Rp 500 ribu per orang," kata Suhardiyana.

Hasil keuntungan kadang dibagikan tunai, kadang digunakan untuk keperluan bersama, seperti membuat seragam, tergantung kesepakatan. Kegiatan UPPO dikelola melalui pertemuan rutin setiap 35 hari sekali. Dalam pertemuan ini dibahas segala hal mulai dari kondisi kandang, jadwal panen kompos, hingga keputusan pembagian hasil.

Anggota UPPO umumnya adalah petani yang memiliki lahan sendiri, sehingga penggunaan pupuk langsung berdampak pada produktivitas mereka. Bahkan ada pengguna yang punya ternak sendiri, namun tetap membeli pupuk ke UPPO karena hasilnya lebih baik. “Mereka bisa bikin sendiri, tapi tetap ambil di sini karena mungkin kualitas kita lebih bagus,” ujarnya.

UPPO juga terus mendorong penggunaan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. “Pupuk kimia itu hanya sebagai penyeimbang, bukan utama. Kalau bisa, untuk sayuran yang dimakan mentah, sebaiknya pakai organik,” kata marketing UPPO Tani Mulyo Teguh Purnomo.

Hasil dari pupuk organik memang tidak instan seperti urea yang dalam dua hari langsung menghijaukan daun, namun dalam jangka panjang, tanah menjadi lebih sehat dan tanaman lebih tahan terhadap hama. Harapannya adalah UPPO Srimartani bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain, tidak hanya di Bantul, tapi juga di seluruh Indonesia.

“Harapan kami setiap Gapoktan bisa memproduksi pupuk sendiri. Ini penting untuk keberlanjutan pertanian dan untuk meninggalkan tanah yang subur bagi anak cucu,” tutupnya. (cr2/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Srimartani #UPPO #tani #Anak Sapi #Pemkab Bantul #Piyungan Bantul #pupuk kimia