BANTUL – Kasus tragis meninggalnya seorang pelajar SMP asal Imogiri akibat bunuh diri mengejutkan banyak pihak.
Hal tersebut dinilai menjadi peringatan serius akan pentingnya kesehatan mental remaja.
Menyikapi hal tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bantul memberikan perhatian khusus kepada keluarga korban, sekaligus memperkuat komitmen dalam upaya pencegahan kekerasan dan bullying di kalangan anak-anak.
Kepala DP3AP2KB Ninik istiriani akan memberikan pendampingan dan pembinaan kepada adik dan kakak korban yang juga masih usia anak-anak.
"Termasuk ibunya, karena sebagai perempuan ia juga menjadi bagian dalam perlindungan yang menjadi tugas kami,” jelasnya saat ditemui di rumah duka korban bunuh diri di Imogiri Kamis (24/7).
Ia melihat kejadian ini sebagai peringatan masih banyak ruang yang perlu diperbaiki dalam sistem perlindungan anak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan.
Meskipun informasi awal dari sekolah menyatakan tidak ada indikasi bullying terhadap korban, Ninik menegaskan pentingnya tetap mengampanyekan gerakan anti-bullying.
Ia juga mengakui layanan konseling seperti PUSPAGA belum menjangkau seluruh wilayah Bantul secara maksimal.
Ia berharap nanti bisa memperluas layanannya hingga tingkat kapanewon, supaya masyarakat terbiasa untuk terbuka dan memiliki keinginan untuk berkonsultasi.
"Jangan sampai aib atau masalah disembunyikan hingga menimbulkan beban mental bagi anak,” ungkapnya.
Sebagai langkah cepat, DP3AP2KB telah menggelar rapat internal lintas bidang sejak pagi hari dan mengikuti rapat koordinasi khusus bersama Sekda Bantul untuk membahas penanganan kasus ini secara menyeluruh.
Dalam waktu dekat, DP3AP2KB juga akan memperkuat kolaborasi dengan Dikpora, Puskesmas, dan berbagai pihak lainnya.
Sebenarnya sebelumnya DP3AP2KB juga telah melakukan tindakan untuk mencegah hal serupa tidak terjadi.
Seperti selama masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), misalnya, DP3AP2KB telah mengirimkan psikolog ke sejumlah sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan minim tekanan.
"Walaupun kami hanya punya satu psikolog di Puspaga, tetapi kami mempunyai jaringan kerja dengan beberapa instansi agar bisa menjangkau banyak anak," jelasnya.
Melalui penguatan peran keluarga, akses konseling yang lebih terbuka, serta edukasi intensif soal bullying dan kesehatan mental, DP3AP2KB berharap tidak ada lagi anak-anak Bantul yang merasa harus menghadapi masalahnya seorang diri.
Diketahui sebelumnya ADK pelajar asal Imogiri meregang nyawa dengan cara bunuh diri. Alasannya lantaran masalah keluarga.
Menurut Mukijo Guru Bimbingan Konseling, korban terkenal orang yang aktif mengikuti kegiatan di sekolahnya.
"Dia aktif, pernah jadi pengurus perpus, dan mau mencalonkan diri jadi dewan penggalang," ujarnya saat ditemui di rumah duka.
Mukijo juga mengatakan ADK seseorang yang percaya diri dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Ia menjadi wakil ketua kelas dan pada saat penutupan MPLS korban sempat bernyanyi di hadapan banyaknya murid baru di SMP-nya.
Dengan keaktifannya di sekolah guru-guru dan teman-temannya syok mendengar kabar ADK. (Cr2)
Editor : Bahana.