BANTUL - Penutupan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan sejak Mei 2024 membuat para pemulung di sana beralih profesi. Kini, para pemulung yang rerata tinggal di wilayah Bawuran, Piyungan mengambil sampah rumah tangga yang ada di rumah-rumah. Lalu sampah tersebut dibakar secara mandiri melalui tobong.
Sampah yang telah diambil lalu dipilah material yang bisa dijual. Sedangkan sampah yang tak bisa digunakan lagi dibakar melalui tobong atau tungku bakar sederhana.
Dengan tobong seadaanya, tak sedikit yang mengalami luka bakar ringan saat memasukkan sampah ke dalam kobaran api. "Kadang kena api, pernah melepuh. Tapi ya gimana lagi, kalau gak kerja ya enggak makan," ungkap Aris Setiawan saat ditemui di rumahnya Kamis (17/7).
Kondisi makin sulit saat musim hujan tiba. Membakar sampah pada musim hujan membuat pengeluaran membengkak. Karena sampah basah tak bisa langsung dibakar. Mereka terpaksa membeli kayu bakar tambahan agar tobong tetap menyala.
Belum lagi jika proses pembakaran sampah tergolong lama, tungku tidak bisa mati sendiri. Pemulung harus mencongkel agar apinya cepat mati dan semua sampahnya cepat terbakar.
Banyaknya tobong pasca-TPST Piyungan ditutup, terkadang mendapat keluhan dari warga sekitar. Rerata mengeluhkan kepulan asap yang terus keluar mengganggu pernapasan mereka dan juga polusi udara. "Kadang ditegur, jadi kita dibatasi tobong harus padam pukul 16.00," jelasnya.
Dia mengenang, dulu ada lebih dari 500 pemulung di TPST Piyungan dari berbagai daerah. Sekarang sudah tidak ada. "Sudah pada pulang kampung semua. Yang tersisa hanya beberapa, itu pun bertahan seadanya," ujarnya.
Terkait adanya rencana pembangunan TPST Bawuran, mereka sangat senang mendengarnya. Karena akan ada lowongan pekerjaan bagi pemulung. "Malah saya senang, karena memberikan peluang bagi saya untuk bekerja di situ (TPST Bawuran)," ujar Aris. (cr2/pra)
Editor : Heru Pratomo