Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Festival Literasi Jogja 2025 sebagai Wadah untuk Mempertemukan Penulis, penerbit, Komunitas, dan Masyarakat

Cintia Yuliani • Rabu, 2 Juli 2025 | 22:35 WIB

PEMAPARAN ACARA: Konferensi Pers Festival Literasi Jogja 2025 yang bertempat di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY gedung Depo, Selasa (2/7)
PEMAPARAN ACARA: Konferensi Pers Festival Literasi Jogja 2025 yang bertempat di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY gedung Depo, Selasa (2/7)
BANTUL - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menyelenggarakan Festival Literasi Jogja 2025 pada 9 sampai 13 Juli mendatang.

Acara yang diselenggarakan dalam lima hari ini, digagas sebagai wadah untuk mempertemukan penulis, penerbit, komunitas literasi, dan masyarakat umum.

Ketua Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI) DIY, Wawan Arif mengharapkan Festival Literasi Jogja 2025 ini bisa menjembatani penulis, komunitas baca, dan komunitas literasi.

Tujuannya agar bisa saling berdiskusi mengenai arah dunia literasi untuk kedepannya melalui talkshow publik yang akan diselenggarakan pada hari terakhir dalam festival ini.

"Buku tidak hanya ditulis untuk dibaca, tapi juga untuk didiskusikan dan dihidupi," jelasnya pada saat Konferensi Pers Festival Literasi Jogja 2025 di DPAD DIY, Selasa (2/7).

Kehadiran puluhan komunitas dan pegiat literasi dari berbagai wilayah DIY akan turut memeriahkan gelaran ini.

Mereka akan dikumpulkan dalam forum bersama untuk berdiskusi dan merancang arah gerakan literasi secara bersama-sama.

Sejumlah tokoh literasi ternama juga dijadwalkan hadir, antara lain Fahrudin Faiz, Eko Triono, Buldanul Khuri, Ida Fajar Priyanto, dan lainnya.

Ketua panitia Aditia Purnomo juga menyampaikan literasi tidak semata soal keterampilan membaca dan menulis, melainkan juga menyangkut kolaborasi dan gotong royong antar banyak pihak.

"Festival ini kami rancang sebagai ruang yang dinamis dan berkesinambungan,” jelasnya.

Selain bisa mendiskusikan mengenai literasi, pengunjung nantinya juga bisa membeli buku dengan diskon yang menggiurkan hingga 80%.

Hal ini juga menjadi salah-satu cara IKAPI DIY untuk menyadarkan masyarakat yang lebih memilih buku bajakan agar beralih ke buku original terbitan resmi.

"Festival ini diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memilih membeli buku original, karena di festival ini harga bukunya tidak jauh berbeda dari buku bajakan," ujar Wawan Arif.

Sementara itu, festival ini mengangkat tema Membaca, Bedaya, dan Sejahtera.

Menurut Kepala Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Informasi DPAD DIY Dewi Ambarwati tema ini dipilih karena ia ingin mengajak masyarakat memandang membaca bukan hanya sekedar kegiatan kognitif, tetapi sebagai jalan memberdayakan diri.

"Ketika masyarakat memiliki akses dan kemampuan literasi yang baik, maka akan terbuka peluang-peluang untuk hidup yang lebih sejahtera," jelasnya.

Selain pertunjukan seni literasi, terdapat rangkaian acara lainnya yakni mulai dari seminar, dan bincang buku, bedah karya, gelar mocopat, talkshow publik, hingga lomba dan pentas seni.

Setiap malam, pengunjung akan disuguhkan berbagai pertunjukan menarik, mulai dari konser dangdut klasik malam pertama, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga penampilan teater yang akan menutup seluruh rangkaian acara. (cr2)

Editor : Bahana.
#literasi #DPAD DIY #ikapi