BANTUL - Konservasi Penyu Pantai Gua Cemara menawarkan kegiatan utama bagi para pengunjung untuk melepaskan tukik ke laut. Hal ini pun bisa dilakukan setiap hari. Bahkan jika kunjungan ramai, pelepasan penyu bisa empat kali sehari.
“Satu orang bisa melepas satu tukik dengan biaya Rp 35 ribu,” jelas anggota kelompok Konservasi Penyu Pantai Gua Cemara Yatiman saat ditemui di Sekretariat Pantai Gua Cemara Minggu (29/6).
Untuk memenuhi permintaan pengunjung, kelompok yang beranggotakan 13 orang ini rutin melakukan patroli malam. Tentunya untuk mencari dan mengamankan telur penyu.
Baca Juga: Pelepasan Siswa MTs Darul Ulum Islamic School Sleman, 31 Anak Dikhitan Masal dengan Laser
Telur yang ditemukan di bibir pantai, lanjutnya, akan dipindahkan ke tempat penetasan. Setelah 50 hari, telur akan menetas. “Lalu tukik kami rawat dulu di bak berisi air laut sekitar tiga hari sampai seminggu sebelum dilepas,” bebernya.
Jenis penyu yang dikonservasi adalah penyu lekang. Menurut Yatiman, proses penetasan alami kerap mengalami kendala, terutama saat musim hujan.
Padahal, satu sarang alami bisa berisi 100 butir. Tetapi jika terkendala curah hujan yang tinggi, telur yang menetas hanya 40-50 butir. Sedangkan jika menggunakan mesin inkubator, tingkat keberhasilannya mencapai 80 persen.
Baca Juga: Sunday Morning dan Senam Sehat Kolaborasi antara Gaya Hidup Sehar dan Perbayaan Ekonomi
Yatiman menyebut, jumlah kunjungan wisata edukatif ini semakin meningkat. Tercatat pada 14 Juni lalu, ada sekitar 500 pengunjung sehari. Kenaikan kunjungan juga didukung oleh promosi melalui media sosial. “Juni total 1.639 pengunjung, jauh di atas bulan-bulan sebelumnya” sebutnya.
Sebab pada Januari, hanya ada 8 pengunjung. Kemudian Februari 185 pengunjung, April 455 pengunjung, dan Mei 149 pengunjung. “Dari Januari sampai Juni 2025, total ada 2.426 pengunjung yang datang ke konservasi ini,” katanya.
Yatiman menyebut, dia bersama anggota lain telah menjaga tempat konservasi sejak 2010 silam. Awalnya, tempat ini hanya digagas oleh lima orang, termasuk Yatiman. Didasari keprihatinan banyak pemburu liar.
Baca Juga: Perputaran Ekonomi Soloraya Great Sale 2025 Ditarget Capai Rp10 Triliun
Perjalannya mendirikan konservasi penyu bersama teman-teman tidak segampang yang dipikirkan. Berawal dari mengambil air laut secara manual dengan cara dipikul sampai sekarang telah memiliki pipa dengan menggunakan disel. Selain itu, Konservasi Penyu di Pantai Gua Cemara ini juga telah memiliki dua mesin untuk penetasan telur dan terapi penyerapan.
Dia berharap, makin banyak masyarakat sadar akan pentingnya melindungi penyu dan tidak diburu secara liar. Dia juga berharap anak muda semakin tertarik untuk ikut mengurus konservasi penyu. "Kalau ada wisatawan yang menemukan telur, langsung dibawa ke sini,” pintanya. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita