Peningkatan ini bahkan dirasakan penjual sejak sepekan sebelum pergantian kalender Jawa tersebut.
Salah satu penjual dupa di Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Novita Listyana, 45, menyebut momen 1 Suro selalu menjadi masa panen bagi pelaku usaha dupa.
Dibandingkan hari-hari biasa, permintaan bisa melonjak lebih dari tiga kali lipat.
“Kalau pas Suro, dari pagi udah banyak yang beli,” ungkap Novita saat ditemui di kiosnya, Jumat (27/6).
Novita menyebut jumlah pembeli bertambah signifikan. Biasanya hanya 5 orang per hari, kini bisa mencapai 15 orang.
Bahkan di tahun-tahun sebelumnya, penjualannya pernah meningkat hingga empat kali lipat, terutama ketika pesanan datang secara online dari berbagai kota.
Mulai dari Solo, Kulon Progo, Kebumen, hingga luar Jawa seperti Kalimantan dan Padang pada saat menjelang satu suro.
Selain memiliki kios, ia memanfaatkan platform Facebook, TikTok, Instagram untuk promosi produknya.
Walaupun tersedia online pembeli yang ke kiosnya bukan hanya dari Jogja saja, tetapi ada yang dari luar kota pada saat menjelang 1 suro ini.
"Ada dari Jakarta juga ada, kemarin malah ada yang dari Sidoarjo datang langsung ke sini,” jelasnya.
Jenis dupa yang dijual pun beragam. Mulai dari dupa kiloan, dupa rentengan, hingga varian khas seperti Cendana, Maharaja, dan Kemenyan.
Namun kata dia, menjelang 1 Suro, jenis Melati menjadi yang paling diburu.
“Biasanya untuk meditasi, atau untuk labuhan di pantai Parangkusumo. Ada juga yang buat ziarah ke Gunung Kidul, Merapi, pas malam Jumat Kliwon,” kata Novita.
Selain momentum 1 Suro, Novita mengaku momen Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon juga sering memicu lonjakan penjualan.
Untuk harga, dupa dijual bervariasi, mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 85.000 tergantung jenis dan kemasan. (cr2)
Editor : Bahana.