Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sampah di Bantul Makin Menggunung, Bau Makin Menyengat! Ini Yang Diandalkan untuk Pengelolaan Sampah

Cintia Yuliani • Minggu, 22 Juni 2025 | 22:44 WIB

MENUMPUK: Depo sampah di Pasar Bantul sudah tidak bisa menampung sampah pada Minggu (22/6)
MENUMPUK: Depo sampah di Pasar Bantul sudah tidak bisa menampung sampah pada Minggu (22/6)
BANTUL – Sejak tidak bisa membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, sampah di Kabupaten Bantul kian menumpuk.

Saat ini, Bantul hanya mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Penampungan Sementara (TPS), karena hingga kini belum memiliki TPA sendiri di Projo Tamansari ini.

“Karena sulitnya mencari lahan untuk TPA, kami saat ini fokus pada penyiapan dan pengelolaan TPST/TPS3R,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, Bambang Purwadi Nugroho, Minggu (22/6).

Menurutnya, selain tidak adanya TPA, persoalan juga muncul karena pengelolaan program 3R (reduce, reuse, recycle) belum berjalan optimal.

Bertambahnya jumlah penduduk juga turut memicu peningkatan volume sampah di Bantul.

Salah satu dampak nyata terlihat di Pasar Bantul. Tumpukan sampah makin tak terkendali sejak tidak lagi bisa dibuang ke Piyungan.

“Dulu, waktu masih boleh buang ke TPA Piyungan, sampah tidak sebanyak sekarang,” ungkap Eko, 37, petugas kebersihan Pasar Bantul saat ditemui di Pasar Bantul

Ia menyebut, tumpukan sampah di depo Pasar Bantul bahkan sampai meluber ke luar area pasar. Akibatnya, sejumlah pedagang memilih pindah.

“Ada empat pedagang yang pindah. Selain bau menyengat, kalau musim hujan biasanya keluar belatung yang merambat ke kaki pedagang,” tuturnya.

DLH sebenarnya masih melakukan pengangkutan rutin dua kali dalam sepekan. Namun, menurut Eko, itu belum cukup. Ia berharap pengangkutan bisa dilakukan minimal tiga kali seminggu.

Selain itu, jika terjadi kerusakan mesin dari DLH, pengangkutan bisa lebih terhambat. “Pernah seminggu hanya sekali diangkut, karena ada kerusakan mesin,” ujarnya.

Tumpukan sampah di Pasar Bantul juga bukan hanya berasal dari aktivitas pasar. Eko mengatakan, banyak warga luar yang membuang sampah rumah tangga ke sana.

“Masa ada popok dan pakaian bekas di sini. Itu jelas bukan dari pedagang,” ucapnya. (cr2)

Editor : Bahana.
#TPA Piyungan #Bantul #Sampah #sampah menggunung #sampah Bantul