BANTUL - Siapa sangka, kesenangannya berburu kuliner lawas sejak 2005, akhirnya membawa nama Beni Sasangka dikenal luas di media sosial. Pria asal Bantul yang sempat 15 tahun menjadi ajudan bupati itu kini aktif membagikan kisah-kisah kuliner klasik, dari warung kopi jadul sampai penganan khas yang nyaris terlupakan.
“Saya dari dulu memang senang jajan, kulineran. Dulu kalau mendampingi bupati ke daerah, saya selalu sempatkan mencari warung-warung khas,” ujarnya Kamis (19/6/2025).
Namun baru dua tahun terakhir ia mulai mendokumentasikan dan membagikannya ke media sosial. Meski begitu, respons positif dari warganet langsung berdatangan.
Padahal, awalnya ia tak terpikir menjadi content creator. Bahkan, beberapa konten awal yang bernuansa sosial seperti berbagi makanan kepada orang tua, ia pilih hapus. “Itu urusan saya dengan Tuhan, saya cari konten yang lain,” ungkapnya.
Justru konten kuliner sederhana di pedesaanlah yang kemudian menjadi ciri khasnya. Tak hanya soal rasa makanan, ia pun membagikan suasana warung, interaksi hangat antara penjual dan pembeli, hingga keramahtamahan yang jarang ditemukan di tempat mewah di setiap kontennya.
“Bukan cuma makanannya, tapi bagaimana saya menyapa, ngobrol dengan mereka, suasana kiri-kanannya juga. Ada orang naik sepeda pulang dari sawah, itu yang ingin saya angkat,” ucapnya.
Beni kerap menggunakan bahasa Jawa dalam video-videonya. Gaya ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Perjalanannya pun tak main-main, mulai dari Sumenep, Makassar, Jakarta, hingga pelosok Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah ia datangi.
Beni mengatakan ia sering mengunjungi warung kopi legend di beberapa kota. "Rata-rata warung kopi, sudah dikelola generasi ketiga," ujarnya.
Dalam setiap kontennya Beni juga menghindari menyebut harga. “Harga itu sensitif. Saya tidak ingin ada penilaian murah atau mahal. Kalau mereka tertarik, datang saja langsung,” tegasnya.
Sampai saat ini walaupun telah dikenal banyak orang dan mempunyai followers 200 ribu lebih, dalam proses pengambilan video ia lakukan sendiri dan tidak menggunakan tim editor. Sesekali dibantu anak atau istri. "Video saya natural saja, hanya menggambarkan alur dan interaksinya jadi ngga begitu butuh editor,” kata Beni.
Ketekunannya membuahkan hasil. Dari yang awalnya hanya 1 ribu followers hingga sekarang Beni sering mendapatkan tawaran kerja sama dan endorsement. Namun ia tetap selektif dalam memilih tawaran kerja sama.
Sementara itu, berbagai prestasi yang pernah didapatnya seperti postingannya pernah ditayangkan di televisi, mendapatkan banyak penonton sampai 9 juta lebih, dan pernah diundang di berbagai acara sebagai pengisi acara.
Contohnya konten tempat makanan yang kekinian ia nilai kurang cocok dengan gaya dokumentasinya. “Kalau saya posting dan takut view-nya sedikit, saya malah jadi kepikiran,” ucapnya.
Selain itu, ia mengaku kontennya tak selalu soal makanan. Kadang ia unggah kegiatan seni tradisi seperti kenduren. Respons warganet pun tetap bagus. “Karena bisa jadi, tradisi yang sudah hilang di tempat lain itu masih ada di sini,” jelasnya.
Kini, setelah dikenal banyak kalangan termasuk pelaku usaha, ia berharap kontennya bisa memberikan manfaat. “Syukur-syukur bisa menemani perjuangan mereka, walau sedikit. Saya hanya ingin menyebarkan kehangatan dan salam persaudaraan dari Bantul,” pungkasnya.
Ke depan, jika kelak pensiun, Beni bercita-cita membuka usaha kuliner sendiri.
Bukan makanan berat, tapi warung santai yang sederhana dan klasik.
“Tempat orang ngobrol, pakai cangkir, bisa buat anak muda juga orang tua,” katanya.
Meski kontennya tidak hanya di Bantul, ia tetap ingin membawa nama Bantul.
Ia selalu menambahkan tulisan salam dari Bantul disetiap postingannya di tiap unggahannya.
Ia juga menyayangkan terdapat beberapa Makanan khas dari Bantul yang orang jarang tahu yakni Karangan dari rumput laut dan khetak, ampas kelapa yang diolah menjadi lauk.
Makanan khas Bantul ini biasanya sering dijumpai di Kretek, Bangunlipuro, dan Pundong.
“Bahkan orang Bantul sendiri belum tentu tahu. Makanan itu biasanya,” ungkapnya.
Ia berharap dengan adanya konten yang dibuat olehnya bisa mengenalkan makanan-makanan khas khususnya di Bantul dan kota-kota lain. (cr2)
Editor : Iwa Ikhwanudin