BANTUL - Kasus bunuh diri di Kabupaten Bantul mengalami lonjakan selama dua tahun terakhir. Sesuai data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, pada 2023 terdapat delapan kasus. Sedangkan 2024, kasus naik hingga 22.
Semantara tahun ini hingga Mei, sudah tercatat enam kasus bunuh diri.
Baca Juga: Waspadai Kurang Tidur! Efeknya Sama Berbahayanya dengan Merokok
Terbaru, korban terakhir tercatat pada Selasa (27/5). Seorang pria berusia 58 tahun di Kasihan, Bantul, yang nekat mengakhiri hidup karena sakit komplikasi menahun yang dideritanya. "Sekitar pukul 12.30 di Jalan Mrisi Dusun Pasokan Kidul RT 6 Tirtonirmolo," jelas Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana Rabu (28/5).
Baca Juga: Bareng, Presiden Prabowo dan Macron Naik Helikopter dari YIA ke Akmil
Sementara itu, Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina mengungkapkan, sebagian besar pelaku bunuh diri berada dalam rentang usia produktif, yakni antara 20-60 tahun. "Meski ada juga yang di atas usia itu," ujarnya.
Latar belakang penyebab bunuh diri, lanjutnya, sangat beragam. Mulai dari depresi akibat masalah sosial ekonomi, pengangguran, kecanduan judi online, penyakit kronis tanpa dukungan keluarga, hingga konflik rumah tangga.
Merespons peningkatan kasus ini, Dinkes Bantul tengah mempersiapkan program Sekolah Sehat Jiwa sebagai langkah preventif dan edukatif di lingkungan sekolah. Tahun ini, pelatihan percontohan akan digelar di tingkat SMP.
Para siswa akan dilatih menjadi peer partner atau teman sebaya yang mampu memberi edukasi. Menjadi tempat curhat, serta mendampingi temannya yang sedang mengalami tekanan mental.
“Kami targetkan dimulai Juli nanti. Sekolah akan ditentukan setelah berkoordinasi dengan disdikpora,” tuturnya.
Langkah ini sejalan dengan upaya dinkes dalam membangun sistem deteksi dan pendampingan sejak dini. Selain pelatihan, sekolah juga akan diberikan edukasi dasar mengenai kesehatan mental.
Harapannya, siswa tak hanya menjadi agen edukasi, namun juga mampu mendeteksi teman-temannya yang mengalami gejala depresi atau kecemasan.
“Sekolah menjadi ruang yang strategis untuk membangun kesadaran dan dukungan awal terhadap masalah kesehatan mental,” bebernya.
Baca Juga: Per 1 Juni 2025 Beny Suharsono Pensiun, Penggantinya Sementara Diisi oleh Plh Sekprov
Bantul juga memiliki program berbasis komunitas seperti Glimas Jiwo di Pukesmas Kasihan 2. Program ini mengorganisasi keluarga penyintas gangguan jiwa berat dalam satu komunitas untuk saling mendampingi dan memberdayakan.
“Peran masyarakat ini sangat krusial, terutama dalam mendeteksi dan memberikan dukungan awal pada tetangganya yang menunjukkan gejala gangguan mental,” tambahnya.
Upaya pemberdayaan ini diharapkan mampu mendorong rehabilitasi berbasis komunitas. Sebab masyarakat dapat mengenali, mendampingi, dan membantu pemulihan warga sekitar yang mengalami tekanan mental atau gangguan jiwa berat. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita