BANTUL - Keberadaan intermediate treatment facility (ITF) di Bawuran, Pleret, Bantul menuai pro dan kontra dari masyarakat. Membuat tempat pengelolaan sampah dengan sistem karbonasi yang sudah diresmikan 11 Maret ini tak kunjung beroperasi. Dalam hal ini, masyarakat mengkhawatirkan dampak lingkungan seperti bau dan polusi.
Sekretaris Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII) Hijrah Purnama Putra menyebut, konsep ITF yang menggunakan teknologi insinerator cukup baik dan efektif. Sebab sampah atau limbah padat akan dibakar pada suhu tinggi. "Secara fisik dan pendanaan lebih baik dari area Piyungan yang sudah tutup dan tidak mampu menampung sampah lagi," ungkapnya.
Secara prinsip dan teknologi, insinerator sudah dipakai di berbagai negara maju. Namun, dalam implementasinya, juga ada beberapa hal yang harus dipenuhi. "Ada aturan dan standar yang digunakan, seperti cerobong asap industri. Salah satu standarnya yang berhubungan dengan dioksin dan furan," lanjutnya.
Disebutkan, dioksin dan furan adalah dua senyawa kimia yang masuk dalam kategori polutan organik persisten (POP). Dioksin juga dikenal sebagai poliklorin dibenzo-p-dioksin (PCDD). Sedangkan furan, dikenal sebagai poliklorin dibenzofuran (PCDF). Keduanya merupakan produk sampingan yang dari berbagai proses industri dan pembakaran.
"Yang dikhawatirkan dioksin dan furan itu akan berbahaya. (Dalam kurun waktu, Red) 20-30 tahun akan menyerang penyakit genetik seperti kanker, karsinogen," bebernya.
Namun di sisi lain, keberadaan ITF Bawuran dinilai penting untuk menuntaskan permasalahan sampah di Bantul. “Masyarakat terus kami ajak diskusi dan mediasi juga, tinggal bagaimana menyatukan pemahaman bersama,” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Ari Budi Nugroho.
Secara substansi, adanya ITF Bawuran dibutuhkan dan jadi salah satu solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan sampah. "Artinya baik pemerintah dan masyarakat juga sama-sama butuh ITF. Ini kan untuk kepentingan masyarakat juga," paparnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita