BANTUL - Kantor Badan urusan logistik (Bulog) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam tiga bulan terakhir terus menyerap gabah kering panen (GKP).
Di Kabupaten Bantul pun demikian yang sedang berlangsung panen raya hingga April 2025 ini.
Namun, serapan GKP Bulog DIY untuk Bantul masih jauh dari angka panen padi yang sudah berlangsung.
Koordinator Wilayah Serap Gabah Bantul Bulog DIY Wahyu Widi mengatakan, dalam tiga bulan terakhir serapan GKP seharga Rp 6.500 perkilogram.
"Petani dengan harga Rp 6.500 semangat menjual sehingga semangat juga untuk bertanam selanjutnya," katanya, Senin (7/4/2025).
Dengan demikian dapat membantu ketahanan pangan.
Kendati begitu, jumlah serapan GKP Bulog DIY dari lahan pertanian di Bantul masih terlalu minim.
Wahyu Widi menjelaskan, dalam tiga bulan terakhir per hari serapan GKP dari Bantul yang dibeli instansinya mencapai 50 ton hingga 100 ton.
Itu artinya dalam sebulan mencapai 1.500 - 3.000 ton serapan GKP dari Bantul ke Bulog.
Diperkirakan dalam rentang tiga bulan terakhir GKP Bantul yang terserap 4500 ton hingga 9 ribu ton.
Dia mengklaim, dalam setiap panen raya, petani tidak selalu menjual seluruh hasil padi yang diperolehnya.
"Karena mereka membutuhkan untuk rumah tangganya sendiri sampai panen berikutnya," sambungnya.
Pada dasarnya penjualan GKP ke Bulog seharga Rp 6.500 per kilogram bersifat sukarela.
Serapan GKP Bulog DIY dari lahan pertanian Bantul yang mencapai angka maksimal 9 ribu ton dalam tiga hari itu terbilang kecil lantaran dalam dua bulan terakhir GKP yang dihasilkan mencapai 32 ribu ton.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih membenarkan besaran tersebut. Menurutnya, 32 ribu ton GKP itu sebenarnya hanya dalam dua bulan terakhir.
"Bersumber dari 4 ribu hektare lahan dengan GKP rata-rata 8 ton perhektare," ungkapnya.
Politisi PKB ini menjelaskan, angka 8 ton perhaktere tersebut merupakan jumlah keseluruhan.
Pasalnya, sejumlah lahan pertanian seperti di Canden, Jetis misalnya GKP yang dihasilkan bisa sampai 9 ton perhektare.
Disinggung mengenai, minimnya jumlah serapan GKP Bulog DIY, Halim tidak terlalu mempersoalkannya.
Pasalnya dia berhusnuzan karena Bulog bukan satu-satunya yang menyerap GKP petani Bantul.
Menurutnya, petani Bantul dapat menjual lebih tinggi daripada Bulog sehingga serapannya tidak terlalu tinggi.
"Bisa langsung dijual ke pasar atau perorangan itu jauh lebih baik," tegasnya. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva